Laman

Selasa, 16 November 2010

Menilik Sedikit

                                                                                                                                                                                

1.    Jean Baudrillard dan Posmodernisme
Dewasa ini berkembang suatu pemikiran yang dampaknya sangat kuat dan atmosfer pemikirannya paling mutakhir, yaitu posmodernisme. Berbicara mengenai posmodernisme tentu tidak terlepas dari tokoh-tokoh yang membidaninya. Salah satunya adalah Jean Baudrillard. Jika dilihat dengan kacamata bahasa, banyak orang yang mengartikan posmodern sebagai pasca modern, “pos” yang berarti sesudah atau pasca. Pemahaman ini justru musyrik, dalam dunia posmo justru anti terhadap kemajuan, emansipasi, ide-ide, dan lain sebagainya. Konsep ini ditelanjangi oleh para pemikir posmo, seperti Foucault, dan Baudrillard.
Posmodern tidak dapat dikonsepkan dalam satu  definisi yang jelas, para penganut “teologi” ini mengharamkan kebenaran partikular.
Pada dasarnya posmodern adalah bentuk ketidaksetujuan dari pergeseran wacana dari berbagai bidang yang terlampau mengkultuskan rasionalitas.
Berangkat dari situlah, Jean Baudrillard dengan pemikirannya mengenai simulasi. Peneliti asal Perancis ini yakin bahwa tanda-tanda telah terpisah dari kebenarannya dan media yang berperan menggerakkan proses ini sehingga tidak ada pebedaan antara yang nyata dan tidak.
Penelitian Baudrillard yang melihat pada pengaturan simbol dalam sebuah pesan didasarkan pada pemikiran semiotik. Sign awalnya merepresentasikan dari sebuah objek atau situasi, Baudrillard menyebutnya tahapan ini sebagai susunan simbolis (symbolic order) umumnya terjadi pada masyarakat feodal, tahapan kedua yaitu peniruan (counterfeits) yang umumnya dalam masa Renaisssance hingga Revolusi Industri, dan selanjutnya tahapan produksi (production) pada saat Revolusi Industri (Littlejohn, 2009).
Simulacra adalah konsep yang menyatakan tidak ada hijab antara nyata dan semu, dunia ini menjadi imajiner. Baudrillard mengambarkan simulasi pada dunia fantasi, dimana benda-benda yang tidak kita ketahui sebelumnya digambarkan sedemikian rupa dan menciptakan gambaran pada pandangan kehidupan kita. Oh, bajak laut itu dengan mata ditutup satu dan tangan besi berbentuk gancu. Padahal itu hanya kerjaan media. Simulasi itu tidak mewakili tetapi meciptakan realitas kita.
Dengan cerita tersebut, media dikenal dengan hyper reality. Hiperrealitas lewat semiotika media digunakan untuk menjelaskan kenyataan yang melampai batas. Tujuannya tentu economic interest, power interest.
Baudrillard mengklaim habis-habisan mengenai teori-toeri sebelumnya, yang menyatakan ekonomi adalah faktor sentral dalam kehidupan sosial. Tidak baginya! Dunia ekonomi dalam arti produksi dan reproduksi tidak berhubungan sama sekali dengan benda-benda (barang yang diproduksi) melainkan berkaitan dengan makna. Contohkan saja rokok, para produsen rokok tidak lagi memproduksi rokok dalam arti sebenarnya, tetapi mengandung arti sebagai kekuatan, ke-macho-an seorang pria. Pandangan ini diciptakan lewat iklan-iklan rokok yang tidak  lagi mengandung benda apa yang dibawa melainkan sesuatu yang lain.
Budaya komoditas media merupakan salah satu aspek dari simulasi. Kita dibentuk oleh lingkungan yang menentukan selera, pilihan, bahkan kebutuhan. Memiliki menjadi sangat penting bagi kita dari pada tingkat seberapa besar kita mengonsumsinya. Kita mengira bahwa kebutuhan kita terpenuhi, tetapi kebutuhan kita sebenarnya adalah kebutuhan yang disamakan dengan penggunaan tanda-tanda dalam media (Littlejohn, 2008). Ketika kita berpikir membeli jam tangan dengan merek terkenal, rasa yang timbul dalam diri adalah bahwa kita mampu membelinya dan mengikuti mode bukan sebagai alat pengingat waktu. Padahal di meja kamar kita berderet jam tangan yang menunggu dilingkarkan pada pergelangan tangan.

Pesan-pesan media yang menggunakan simbol-simbol memang dirancang untuk memengaruhi individu atau masyarakat. Itulah karya Baudrillard yang memiliki sebuah ujung yang lancip alias kritis.

2.    Michel Foucault dan Post-Strukturalisme
Post-strukturalis adalah pergerakan yang bereaksi pada semiotik tentang bahasa (Littlejohn, 2008). Dalam bidang ini pakar yang paling berpengaruh adalah Michel Foucault. Foucault menolak dirinya dimasukkan dalam jajaran pemikir strukturalis atau post-strukturalis. Para ahli post-strukturalis menolak kalau bahasa itu alat bantu komunikasi dengan bentuk alaminya (Mansoer Fakih, 2008) dengan kata lain bahasa itu tidak lagi netral. Paham ini sebenarnya dapat dikatakan posmodernisme, mengapa? Karena Foucault sangat tidak menerima ortodoksi komunisme.
Foucault mengatakan bahwa setiap zaman memiliki konsep pengetahuan yang berbeda. Nah, konsep itu dinamakan  épistémè. Ada dua bentuk épistémè, yaitu épistémè sebagai pengetahuan atau wacana dan épistémè dengan konsepnya tentang wacana dan kekuasaan. Sebagai sebuah struktur, épistémè dapat diartikan dengan toalitas, hal ini disepakati oleh pemikir strukturalis. Foucault menjelaskan épistémè sebagai sebuah totalitas yang menyatukan (Suma Riela, 2008), dalam arti mengontrol cara kita memandang dan memahami realitas tanpa kita sadari.
Épistémè berbeda pada tiap zaman. Jika kita sadar pada épistémè yang memengaruhi kita, berarti kita telah berada dalam épistémè yang berbeda, karena menurut Foucault épistémè tidak dapat dilihat atau disadari ketika kita ada di dalamnya (Angkersmit, 1987). Namun ternyata épistémè itu dapat diidentifikasi melalui mengunggkap “yang tabu, yang gila, yang tidak benar”. Foucault mendalami masalah kegilaan, seksualitas, dan kejahatan.
 Selanjutnya épistémè sebagai wacana dan kekuasaan. Sang Foucault memperkenalkan hubungan antara wacana (discourse), pengetahuan (knowledge), dan kekuasaan (power). Di dalam épistémè ada hubungan yang erat antara bahasa dan realitas. Bahasa tidak transparan, bahasa bukanlah cermin realitas, tetapi bahasa ditentukan oleh épistémè.
Realitas yang disampaikan bahasa adalah realitas yang dibentuk oleh épistémè. Bahasa di sini berarti wacana yang merupakan pengetahuan terstruktur. Menurut Foucault, berbicara tentang wacana, berarti berbicara tentang aturan-aturan, praktik-praktik yang menghasilkan pernyataan-pernyataan yang bermakna pada satu rentang historis tertentu (Adian, 2002).
Wacana menurut Foucault berkaitan erat dengan konsep kekuasaan. Terdapat relasi antara pengetahuan dan kekuasaan, keduanya saling memengaruhi. Agar pengetahuan dan kekuasaan bermain, dibutuhkan suatu wacana. Contoh yang biasa digunakan yaitu wacana Galileo yang menyatakan bumi itu bulat, sampai ia dihukum mati. Wacananya bertolak belakang dengan wacana pada saat itu yang meyakini bahwa bumi itu datar.
Analisis wacana Foucault memahami kekuasaan yang bermain dibalik pengetahuan. Analisis terhadap kekuasaan yang mendominasi kaum marjinal, itu sebabnya Foucault juga disebut pemikir marjinal.
Dari ulasan diatas, dapat kita ketahui ternyata pada setiap zaman itu diskursus itu bukan sekedar wacana yang terjadi secara alami, melainkan gagasan yang telah dibumbui sistem kekuasaan dan dominasi. Dalam setiap masyarakat pembuatan atau produksi diskursus itu dikontrol, dipoles, dan disebarkan.
Bagimana diskursus dapat dibentuk? Mansoer Fakih dalam buku Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, menyontohkan diskursus dalam bidang pembangunan. Pertama mereka (Dunia Maju) menciptakan ketidaknormalan (abnormalities) seperti “kekurangan gizi”, yang harus dipecahkan. Spesifikasi masalah ini membutuhkan observasi detail mengenai tempat, rumah tangga, juga mengenai “Dunia Ketiga”.  Mereka menawarkan formula yang bisa “menyembuhkan” dari masalah tersebut.
 Selanjutnya formula tersebut diekonomikan, dan dilanjutkan oleh pemerintah setempat dalam institusi badan perencana pembangunan nasional. Strategi ini mampu melakukan pengelolaan dan kontrol terhadap penduduk dengan detail.
                        Demikian dari uraian di atas, dapat kita petik pelajaran bahwa “teologi” ini (anggap saja sebagai teologi) dapat mencerahkan dan menginspirasi secara radikal dan kritis terhadap setan-setan yang mendominasi.


3.    Marshal McLuhan dan Determinisme
Marshall McLuhan, terkenal dengan ungkapan “The Medium Is The Massage” sampai-sampai ia dianggap gila dan radikal. Maksud dari ungkapan tersebut bahwa media itu membawa pesan, ya pesannya itu merupakan media itu sendiri. Marshall mempunyai paham yang sama dengan Veblen yaitu Determinisme Teknologi. Untuk mengetahui determinisme kita akan menggunakan ungkapan-ungkapan McLuhan. Merujuk melalui pernyataan McLuhan “The Technology as The agent of social change”, artinya teknologi itu adalah sebagai agen perubahan sosial.
Mengapa demikian? Akan saya contohkan peristiwa kecil yang saya amati dan terjadi disekitar saya, saya mempunyai teman satu asrama namun berbeda kamar, dulu ia sering mengunjungi kamar saya dan share mengenai segala sesuatu. Pasca idul fitri kemarin ia pulang ke asrama dengan membawa laptop baru, selanjutnya yang terjadi ia tidak lagi mengunjungi kamar saya atau hanya sekedar sharing. Dan apabila bertemu hanya bertukar “hai” dan berbicara sekedar. Waktunya banyak tersita di kamar dan berkutat dengan laptopnya. Dari contoh tersebut pada hakikatnya media mempengaruhi pola pikir, merasakan, dan bertingkah laku manusia itu sendiri.
Teknologi itu sendiri yang merupakan alat perpanjangan inderawi manusia (The Exstension of Man), McLuhan memperkenalkan ungkapan itu dalam bukunya Understanding of Media: The Extension of Man. McLuhan meramalkan era perkembangan teknologi akan membawa peralihan fungsi teknologi sebagai perpanjangan dari sistem inderawi dan sistem syaraf manusia. Jika dilogikakan seperti televisi ekstensi dari mata, mobil ekstensi dari kaki.
Selanjutnya adalah “global village”, maksudnya ini adalah sebuah penggambaran dunia yang begitu luas ini, menjadi sempit dimana segala sesuatu dapat diakses dengan gampang dan cepat. Global Village adalah analogi dari buana ini menjadi desa. McLuhan memperkenalkan ini sekitar pada tahun 60-an, pada saat itu pemikirannya dianggap aneh, makanya saya sebutkan di atas bahwa pemikirannya dianggap gila dan radikal. Jika dalam pandangan Foucault, McLuhan mempunyai épistémè yang berbeda pada saat itu.
Ramalan McLuhan dapat kita lihat melalui fenomena-fenomea jejaring sosial seperti facebook, twitter, yahoo messengger, dan situs-situs jejaring sosial lainnya. Dengan situs tersebut manusia dari berbagai belahan dunia dapat berkomunikasi bertukar pesan, dan dapat terjadi enkulturasi. Hal ini merupakan ramalan McLuhan yang terbukti terjadi, dimana teknologi semakin menggurita pada kehidupan manusia. Pada akhirnya global village bukan sekedar konsepsi belaka, namun kian menampakkan kebenaran.  
Bertolak pada uraian paragraf di atas bahwa tidak ada batasan antara waktu dan tempat, ditandai juga orang-orang dapat mengakses berita atau peristiwa terjadi diberbagai belahan dunia manapun secara cepat.  
Menurut McLuhan, perpanjangan ini sesuai dengan tahapan-tahapan sejarah (Marshal McLuhan, 1964). Digambarkan teknologi percetakan menandai masa-masa modern, kemudian teknologi elektronik menandai pada era posmodern. Namun hingar bingar perkembangan teknologi ini telah mengurangi esensi dari pesan yang disampaikan, melainkan malah sebagai ganti pesan simbolik. Maka dari itu kita menoleh kembali statemen McLuhan  Media The Extention of Man, yang namanya media itu hanya sekedar menjadi perpanjangan badan manusia tanpa pesan dan makna.
Pemikiran McLuhan ini juga dipakai oleh Jean Baudrillard mengenai global village dan extention of man, pandangan Badrillard bahwa media bukan hanya perpanjangan dari badan manusia, tapi lebih dahsyat lagi. Media itu bisa menciptakan fantasi-fantasi, ilusi-ilusi menjadi sebuah realitas. Yang sudah dibahas sebelumnya dibagian awal mengenai hiperalitasnya.
Terakhir,
Ruang dan waktu sudah ditaklukan teknologi.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar