Laman

Selasa, 28 Juni 2011

Sikap Pesimistik Terhadap Dunia Pertama dalam Pandangan Imprealisme Struktural



1.1  Latar Belakang Masalah
Perkembangan komunikasi internasional sepanjang abad ke-20 dipengaruhi oleh kondisi sejarah. Pertama, perang dingin hegemoni ekonomi dan politik antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kedua, bangkitnya negara-negara berkembang yang mengindikasikan lahirnya gerakan solidaritas kawasan. Ketiga, terbentuknya sistem ekonomi dunia kearah globalisasi. Keempat, adalah perkembangan teknologi komunikasi yang meskipun mempercepat aliran arus informasi, namun juga dikhawatirkan memperlebar jurang ekonomi antara negara maju dan berkambang.[1] Hal yang keempat tersebutlah yang menjadi bahasan khusus mengenai ketimpangan-ketimpangan yang terjadi antara hubungan negara maju dan berkembang. 
Dewasa ini jika kita perhatikan banyak sekali produk industri baik teknologi, media massa, perfilman, musik, fashion, berita internasional dikuasai oleh negara-negara yang disebut negara maju. Hasil dari berbagai produk ini diterima oleh masyarakat dan negara ketiga secara umum sebagai upaya pembentukkan kemajuan negara yang dilebeli modern.  Modern sendiri menurut ilmuwan sosial yang concern terhadap modernisasi menggunakan standard masyarakat industri Barat yang telah maju sebagai acuan  tingkat modernitas terhadap suatu negara yang berkembang.[2]
Menurut Eisenstadt “Dalam  sejarahnya, modernisaasi merupakan proses perubahan menuju tipe sistem sosial, ekonomi dan politik yang telah berkembang di Eropa Barat dan Amerika Utara dari abad ke 19-20 meluas ke negara-negara Amerika Selatan, Asia serta Afrika”.[3] Seperti inilah kiranya perspektif evolusioner yang menjelaskan tahapan-tahapan transisi “kemodernitasan”. Secara ringkas modern itu mengikuti dan turut serta dunia modern untuk meningkatkan kesatuan meskipun secara kacau. Pandangan ini melahirkan gagasan modernisasi.
Produk-produk yang dihasilkan dunia pertama baik itu ekonomi, politik atau budaya, masuk dan menyentuh segi dan pola dunia ketiga. Masuknya hal tersebut dipandang  “sinis” oleh sebagian kaum  terhadap dunia pertama.  Sebenarnya pada proses keterlibatan mereka ada ketidaksadarkan dunia ketiga, bahwa sikap yang dilakukan negara-negara maju merupakan proyek terselubung dalam menjalankan sayapnya untuk mendominasi khususnya arus informasi di dunia. Fenomena ketidakmerataan informasi, media lah yang melaksanakan perannya secara tidak objektif, dan minimnya informasi yang dikeluarkan oleh media massa membuat proses komunikasi, pemahaman dan pembentukan opini masyarakat menjadi tidak optimal yang menunjukkan implikasi dari adanya ketimpangan arus dan isi informasi.
Gambaran tersebut merupakan rezim globalisme yang tidak selamanya menguntungkan, globalisme menempatkan posisi komunikasi internasional sebagai hal terpenting sebagai cara atau strategi untuk memengaruhi pihak-pihak lain termasuk dunia ketiga. Pandangan pesimistik  ini muncul setelah banyaknya gagasan tentang modernisasi sekaligus sebagai jawaban dari pandangan optimistik. Kelahiran pandangan ini merupakan suatu bentuk warning bagi dunia ketiga, bahwa hubungan negara-negara kapitalis dan menerapkan konsep atau model yang sejalan dengan negara maju adalah bentuk bahaya besar yang tidak terlihat secara kasap mata. Cengkraman itu memang tidak dilakukan lewat perang militer, ketidaksadaran itu karena yang mereka (dunia maju) kuasai adalah bagian sel-sel dari suatu negara dari dalam. Sehingga hubungan dengan  dunia pertama justru hasilnya akan terjadi ketimpangan-ketimpangan yang ujungnya menguntungkan negara maju.
1.2 Rumusan Masalah
Setelah mengetahui latar belakang di atas, menimbulkan pertanyaan utama yaitu: Bagaimana gagasan memandang pesimistik mengenai dominasi di negara berkembang?Adapun pertanyaan turunannya: Aspek apakah yang didominasi oleh dunia maju terhadap dunia berkembang? Apakah efek yang terjadi akibat kehadiran negara maju dinegara berkembang? Mengapa masih banyak dunia berkembang bergantung pada negara-negara maju?
1.3  Statemen
Pandangan pesimistik ini bukan berarti tidak mau maju atau hanya mampu mengkritik keunggulan orang lain. Dalam pandangannya, gagasan ini justru berupaya mengembangan potensi-potensi negara yang dimiliki, dengan upaya mengurangi ketergantungan kepada orang lain. Pandangan ini bukanlah kecurigaan tanpa alasan, secara empiris kita dapat melihat bagaimana negara maju yang  menggurita di sel-sel negara-negara berkembang. Sel-sel atau aspek negara ini dipandang serius oleh gagasan-gagasan pesimistik.  Seperti perekonominan Indonesia yang didominasi oleh Amerika Serikat. Jadi, praktik dominasi negara maju terhadap negara berkembang dapat dibuktikan.
Konsep imprealisme struktural oleh Johan Galtung merupakan gagasan yang relevan dengan pandangan pesimistik. Imprealisme diartikan sebuah corak hubungan di mana sebuah mayarakat mendominasi masyarakat lainnya.[4] Gagasan ini merupakan jawaban dari pandangan optimistik terhadap negara maju, dapat dikatakan pula bahwa ini merupakan feedback dari sebuah bentuk model komunikasi Lasswel. Imperialisme juga dapat dikatakan keterlibatan negara maju terhadap negara berkembang dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, militer, pendidikan dan politik. ‘Permainan’ ini bukan hanya sekedar saling menguntungakan, namun ada aspek-aspek lain yang dijadikan keuntungan yang berat sebelah dan dinikmati oleh negara maju. Yang perlu digarisbawahi adalah keberadaan mereka (baca: dunia maju) terhadap urusan-urusan kepentingan nasional negaranya. Pasti terdapat hal lain dari tujuan yang mereka tawarkan sebagai upaya pembangunan nasional untuk menjadi masyarakat yang modern.
Dengan menggunakan istilah imprealisme, yaitu konsep yang dipakai untuk menggambarkan proses komunikasi internasional dalam membentuk, mempertahankan dan memperluas sayap dominasi dan menciptakan ketergantungan secara menyeluruh atau global.
1.3  Kajian Teori
Teori Imperialisme Struktural
Teori imperialisme struktural merupakan teori yang berpandangan mengecam dominasi negara maju terhadap negara berkembang dan Johann Galtung adalah salah satu tokoh terkemukanya. Galtung mendefinisikan imperialisme secara sederhana yaitu corak hubungan dimana sebuah masyarakat mendominasi masyarakat lainnya, ini bisa berlangsung secara parsial ( sebagian-sebagian) atau secara struktural ( keseluruhan ).[1]
 Bersama dengan konsep teori dependensi (Cardoso) dan teori imperialisme kultural (Herbert Schiller), teori ini menjadi bagian dari teori dependensi yang lebih menitik beratkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara Dunia Ketiga, karenanya dianggap mewakili suara negara-negara pinggiran untuk menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari negara maju. Teori dependensi muncul sebagai kritik terhadap arus pemikiran utama persoalan pembangunan yang sebelumnya didominasi oleh teori modernisasi.[2]
Kembali pada imprealisme struktural, kata kunci teori ini sebagai berikut: Imperialisme adalah sebuah sistem yang membagi-bagi kolektivitas-kolektivitas dan menghubungkan beberapa bagian satu sama lain dalam hubungan kesadaran kepentingan dan bagian lain dengan ketidakselarasan kepentingan atau konflik kepentingaan”.[3]
Konsep Pusat-Pinggiran
Jika kita lihat kata kunci di atas berkaitan dengan sistem, kesadaran kepentingan, dan konflik kepentingan. Berbicara mengenai sebuah sistem dengan pendekatan struktural, maka hasilnya sistem adalah konsep mengenai bagian yang memiliki peranan masing-masing dan terkoneksi dan saling memengaruhi. Fungsi di sini tidak bersifat mutlak ketergantungan satu sama lain antara sistem tersebut. Jika salah satu sistem rusak maka sistem yang lain tetap berjalan sebagaimana fungsinya. Sistem-sistem ini didikotomikan menjadi pinggiran dan pusat. Kemudian menjadi konsep yang diperkenalkan Galtung sebagai konsep “Pusat”. Konsep ini masih dapat dibagi menjadi konsep pusat-pusat, pusat-pinggiran, pinggiran-pusat, dan pinggiran-pinggiran. Terminologi tersebut dapat dianalogikan menjadi konsep bangsa-bangsa di dunia. Pusat atau Center yaitu ditunjukkan bagi negara-negara maju atau kaum tertinggi yang berada di jajaran tertinggi di masyarakat yang biasanya disebut kamu elit. Sementara Pinggiran atau Periphery adalah negara-negara industri yang terbelakang atau kaum yang berada pada jajaran terendah sistem masyarakat.
Konsep yang berarti bangsa-bangsa di dunia kemudian berinteraksi dalam suatu hubungan. Berbicara mengenai hubungan maka tidak lepas dari kepentingan-kepentingan. Kepentingan inilah yang merupakan landasan interaksi. Interaksi dalam lingkup kepentingan untuk menguasai tujuan, di sini terlihat bagaimana pihak tertentu menguasai pihak lain yang dapat memenangkan kepentingannya.
Mekanisme Imprealisme
Hubungan dalam interaksi antar pusat-pinggiran menghasilkan sebuah mekanisme. Mekanisme imprealisme meliputi:
·         Asas hubungan interaksi vertikal. Pada pola ini ada sesuatu yang “ditukarkan” misalnya sebuah barang atau jasa. Interaksi yang terjadi berdasar asas saling melengkapi. Misalnya saja perjanjian dagang pada pertukaran beras dan pesawat terbang. Keduanya melakukan ‘pertukaran’ dikarenakan adanya keterbatasan barang. Namun sebenarnya, kedua barang tersebut memiliki kandungan nilai yang berbeda atau tidak sederajat.
·         Asas hubungan interaksi feodal. Pola ini merupakan kebalikan dari asas hubungan di atas. Dalam asas ini mempertahankan dan memperkuat ketimpangan yang ada. Terdapat empat tuntunan yang mendefinisikan asas hubungan ini, antara lain: interaksi yang terjadi antara pusat dan pinggiran berlangsung vertikal, tidak terdapat interaksi antara pinggiran dan pinggiran, tidak terdapat interaksi multilateral yang melibatkan semua kegiatannya, dan interaksi terhadap dunia luar ‘dimonopoli’ oleh pihak pusat. Hubungan yang bersifat feodal ini merupakan usaha pusat agar pinggiran memiliki ketergantungan yang absolut terhadapnya. Jika ketergantungan tersebut belum maksimal, maka pusat menetapkan politik pecah belah sehingga pusat memiliki wewenang penuh atas pinggiran tanpa ada usaha perlawanan.[4]
1.4  Metodologi
Deutsch menyebutkan bahwa model itu mempunyai empat fungsi: mengorganisasikan, heuristik, prediktif dan pengukuran.[5] Jika melihat dari teori di atas, bentuk model yang disesuaikan adalah  model komunikasi Harold D.Laswell.
Dalam model ini untuk mempermudah proses komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan berikut: Who, Says What, In Wich Channel, To Whom, With What Effect (siapa mengatakan apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa). Menurut Lasswell itu merupakan unsur-unsur proses komunikasi, yaitu: Communicator (Komunikator), Message (Pesan), Media (Media), Receiver (Komunikan / Penerima), Effect (Efek).
Laswell (1948) menggambarkan proses komunikasi dan fungsi-fungsi yang ditanggung dalam masyarakat. Fungsi komunikasi itu sendiri adalah: pertama, pengawasan lingkungan; kedua, korelasi berbagai bagian terpisah yang merespons lingkungan; ketiga, transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi lainnya.[6] Sedangkan pihak-pihak yang bertanggung jawab melaksanakan fungsinya dalam masyarakat misalnya, pimimpin politik atau diplomat.  
1.5  Analisis
Setelah mengatahui gagasan pesimistik memandang keterlibatan dunia maju terhadap dunia berkembang karena adanya kepentingan dominasi demi kepentingan negaranya sendiri. Sekarang menilik apa sajakah yang mereka dominasi. Mengacu pada pemikiran Galtung, imprealisme ini ada beberapa aspek yaitu ekonomi, politik, militer, budaya, dan komunikasi.
Pertama pada bidang ekonomi, pusat menguasai sarana produksi, sedangkan pinggiran menyediakan bahan mentah. Negara pinggiran ini juga merupakan sasaran pasar pusat. Bentuk imprealisme yang terjadi jika kita lihat, pusat mengambil dan mengekploitasi barang-barang mentah kemudian dijadikan barang jadi dan dijual kembali ke negara penyokong bahan mentah dengan haraga yang relatif lebih mahal. Dengan kata lain, negara pinggiran menjadi konsumsi barangnya sendiri namun sudah di buat jadi oleh pusat. Seperti Indonesia yang mengekspor hasil buminya khususnya karet untuk pembuatan ban kendaraan ke negara-negara seperti Jepang dan China. Lalu produk-produk kendaraan yang di Indonesia kebanyakan dari Jepang, kendaraan itu sendiri membutuhkan pembuatan ban.
Memahami realita yang ada terlepas dari sokongan barang mentah ke negara-negara maju. Keberadaaan Bank Dunia (World Bank) dari struktur keanggotaan 184 negara. Sejumlah 150 negara berkembang di antaranya hanya memiliki kekuatan suara 33 persen. Sementara itu 34 negara maju di dalamnya memiliki kekuatan suara sebesar 67 persen suara. Tentu  hal ini menunjukkan dominasi struktur kepemilikan saham Bank Dunia, maka tidaklah mengherankan kebijakan yang lahir dari Bank Dunia, tidak lebih koorporasi raksasa yang melahirkan kebijakan ”memfasilitasi” kepentingan pemegang saham terbesar. Mulai dari struktur kebijakan hingga penunjukan perusahaan rekanan Bank Dunia yang memiliki afiliasi terhadap negara maju.[7]
Kedua, pada bidang politik Galtung menyebutkan bahwa imprealisme politik terjadi ketika pusat menguasai akses yudikatif dengan berbagai macam peraturan atau model-model instruksi yang mengharuskan pinggiran mematuhi peraturan dan berposisi sebagai pengikut. Ketika pinggiran bertindak peniru, otomatis mereka pada posisi ‘pihak yang diperintah’. Posisi ini tidak memiliki wewenang yang luas. Kita mengenal istilah politik demokrasi yang digembar-gemborkan Barat, ini merupakan proses penguasaan dari segi pandangan. Meski pemikiran ini mempunyai dampak baik pula, namun bukan berarti negara berkembang dapat didekte oleh mereka. Keterlibatan AS, Inggris dan Prancis yang mendukung oposisi di Libya dapat dikatakan bentuk pengauasaan politik.  
Ketiga, bidang militer pusat memiliki teknologi keamanan dan pertahanan yang lebih kuat. Sebaliknya, pingiran memiliki posisi yang lemah dengan adanya peralatan yang relatif tradisional. Kondisi ini bisa menjadi sasaran bagi pusat yang sewaktu-waktu dapat ‘membungkam’ pinggiran dengan invasi dan serangan frontal.
Selain itu penulis melihat pada bidang militer yang baru-baru ini terjadi adalah bantuan Amerika Serikat, Prancis dan Inggris di Libya. Koalisi ini melancarkan serangan militer melalui udara dengan dalih untuk memberlakukan zona larangan terbang di Libya dan melindungi rakyat sipil dari tidak kekerasan yang dilakukan rezim Moammar Ghadafi. Menurut penulis ada agenda lain yang direncanakan oleh pemerintah negara koalisi tersebut. Bukan saja untuk melindungi rakyat Libya, melainkan menegaskan bahwa dirinya negara Barat adalah penguasa di belahan dunia. Hal ini terdapat keterkaitan serangan negara-negara Barat dengan tujuan imprealisme.
Keempat, dibidang komunikasi imprealisme bergerak pada penguasaan sarana transportasi dan komunikasi. Pada bab lain penulis telah memelajari mengenai penguasaan kantor berita global. Pada sarana komunikasi arus berita internasional sudah didominasi oleh negara-negara pusat. Seperti Reuters (Inggris), Associated Press (AP/Amerika Serikat), United Press International (UPI/ Amerika Serikat), Agence France Press (AFP/ Perancis) dan TASS (Uni Soviet). Kantor-kantor berita ini memiliki peran dalam arus berita internasional. AP, UPI, AFP dan Reuters menjadi sumber paling dominan di negara-negara Amerika Utara, Eropa Barat, Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Sedangkan TASS menjadi sumber berita utama di Eropa Timur dan belahan dunia lainnya.
Kelima, dalam bidang budaya dapat kita lihat sesuatu yang masuk dari pusat ke negara berkembang dapat berdampak pada budaya. Jika kita lihat produksi-produksi hiburan baik itu film, musik, komik yang didistribusikan ke nagara-negara pinggiran. Dengan tidak sadar melewati hal-hal tersebutlah budaya asal pembuatan produksi itu terbawa. Selain itu dapat dilihat program putri Indonesia yang mencari wanita dengan kriteria putih, tinggi, langsing, mampu berbahasa asing, hidung mancung dan lain sebagainya merupakan dampak dari budaya Barat yang tersalur lewat medianya. Rasanya akan sangat aneh apabila keluar dari kriteria di atas. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Negara dunia ketiga tanpa sadar meniru budaya Barat melalui media massa yang mengandung budaya-budaya mereka. Pada saat itulah budaya-budaya lokal mulai termarjinalkan dari gerusan budaya asing yang kian marak dan dianggap sebagai gaya hidup. Sehingga dunia ketiga tidak dapat mudah lepas dari kekuatan Barat. Ini merupakan efek yang terjadi akibat imprealisme tersebut, keterlenaan dalam buaian semu negara Barat menjadikan ketidaksadaran yang ujungnya akan mengekor pada pemikiran mereka, seraya berfikiran bahwa tolak ukur modernitas adalah dari bentuk pencapaian negara Barat.



[1] Armando, Komunikasi Internasional (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007)h.3.39s
[6] Mulyana, Dedy, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007)h. 147
[7] http://www.selamatkan-indonesia.net/diakses tanggal 5 juni 2011/pukul 20.00

[1] Shoelhi, Muhammad, Komunikasi Internasional dalam Perspektif Jurnalistik,(Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2009)h.162
[2] Abraham, M.Francis, Modernisasi di Dunia Ketiga Suatu teori Umum Pembangunan, h.4.
[3] Rudolph and Rudolph, The Modernity of Tradition dikutip dalam buku Abraham, M.Francis, Modernisasi di Dunia Ketiga Suatu teori Umum Pembangunan, h.4.
[4] Armando, Komunikasi Internasional (Universitas Terbuka, Jakarta: 2007),h.3.39

Rabu, 27 April 2011

Faktor yang Mempengaruh Hubungan Antarpribadi

Example Case
            Mediasi  merupakan tahap atau upaya untuk memperbaiki hubungan apabila mengalami pemutusan hubungan antarpribadi. Penulis secara pribadi pernah menjadi mediator pada suatu permasalahan diantara mahasiswi berasal dari daerah yang sama. Persamaan daerah bukan jaminan sifat keadatan yang sama. Salah satu contoh mahasiswi yang berasal dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Sebut saja Mawar dan Vivi. Mereka mahasiswi semester dua di Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta, tinggal pada satu kamar dan satu kelas yang sama.
Meskipun berada pada satu rumpun baik asal, kelas, dan kamar hubungan mereka bersifat regresif. Sifat mengendalikan satu terhadap yang lain, sering menyuruh dan saling menyalahkan sikap membuat keduanya tidak saling menyapa. Kemudian penulis mencoba menjadi mediator diantara keduanya.  Mediasi berujung dengan baik dimana kedua mahasiswi tersebut mampu membuka diri dan memaafkan satu sama lain, meskipun pada proses mediasi melewati polemik dan masalah yang rumit. Dua minggu setelah mediasi itu, hubungan keduanya membaik dan mulai melakukan kegiatan dimana mereka berkontribusi atau hanya sekedar hangout bersama.
Namun tak sampai hingga satu bulan hubungan mereka memburuk seperti sebelumnya. Setelah penulis menanyakan kepada Vivi mengapa terjadi demikian, ia menjawab Mawar telah menyinggung perasaannya secara nonverbal. Bahwa Mawar mengganti barang milik Vivi yang dibeli oleh temannya dengan uang sebesar sembilan ribu rupiah. Perasaan ini tidak Vivi sampaikan kepada Mawar mengenai apa maksud dan tujuan perlakuan tersebut, yang akhirnya membuat Vivi berdiam dan tidak bertegursapa dengan Mawar meskipun mereka berada pada satu kamar. Sikap berdiam diri mereka lakukan hingga berbulan-bulan, dan tidak ada kata-kata atau keterangan yang mereka berikan baik dari Vivi maupun Mawar mengapa bersikap demikian.
Dengan kasus dan subjek yang sama, konflik dapat terjadi berkali-kali meskipun sudah  melewati mediasi. Oleh karena itu, penulis tergelitik melihat pola komunikasi mereka untuk dijadikan sumber masalah dalam penelitian kecil ini.

Humanistic Aspect
Setelah melihat bagaimana konflik pada contoh kasus di atas, hubungan komunikasi tidak bersifat statis namun dinamis. Kehadiran konflik merupakan salah satu dinamika komunikasi manusia (Muthmainnah dkk., 2005: 6.23). Jika konflik dapat diselesaikan dengan baik, perkembangan hubungan akan menjadi lebih baik, tetapi sebaliknya konflik dapat suatu hubungan melemah dan hancur. Menurut R.D Nye, ada lima sumber konflik, yaitu:
1.      Kompetisi: salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain.
2.      Dominasi: salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang itu merasa hak-haknya dilanggar.
3.      Kegagalan: masing-masing pihak menyalahkan yang lain jika tujuan bersama tidak tercapai.
4.      Provokasi: salah satu pihak terus menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung perasaan orang lain.
5.      Perbedaan nilai: kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.[1]
Konflik akan memengaruhi pola komunikasi. sedangkan pola komunikasi antarpribadi akan memengaruhi hubungan antarpribadi itu sendiri. Yang perlu digarisbawahi, bukan intensitas pertemuan atau komunikasi antarpribadi yang menjadikan hubungan lebih baik, namun kualitas dari komunikasi antarpribadi tersebut. Untuk meningkatkan hubungan komunikasi antarpribadi yang lebih baik, Jaluddin Rachmat (2007: 129) menyatakan  ada tiga faktor yang dapat menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi interpersonal, yakni:
1.      Percaya (Trust)
Secara ilmiah percaya didefinisikan sebagai “mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki,  yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh resiko” (Griffin, 1967:224-234 dalam Rakhmat, Remaja Rosdakarya 2007:130). Menurut Johnson (1981), mempercayai meliputi membuka diri dan rela menunjukkan penerimaan dan dukungan kepada orang lain. Keuntungan mempercayai orang lain di paparkan oleh Rakhmat (2004:130).
Kepercayaan meningkatkan hubungan komunikasi antarpribadi, dengan kepercayaan sesorang akan membuka, memperjelas, dan memperluas komunikasi. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kepercayaan yakni, menerima, empati, dan jujur.

2.      Sikap Mendukung (Supportif)
Sikap suportif merupakan upaya  mengurangi sikap defensif dalam komunikasi.Orang defensif cenderung tidak menerima, tidak jujur dan tidak empatis. Hal ini haruslah dihindari agar komunikasi antar pribadi dapat berlangsung efektif.[2]

3.      Sikap Terbuka (Open Mindedness)
Sikap terbuka memiliki karakteristik: (1) menilai pesan secara objektif; (2) mampu melihat dengan mudah, dapat melihat suasana; (3) berorientasi pada isi pesan; (4) mencari informasi dari berbagai sumber; (5) lebih bersifat provosionalis; dan (6) mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaannya.[3]
Tiga faktor di atas mendukung dan menciptakan interaksi yang harmonis. Ancangan tiga hal ini menurut para filsuf humanis menentukan terciptanya hubungan antarmanusia yang superior. Dari kualitas umum, kemudian dapat menurunkan perilaku yang spesifik sebagai tanda komunikasi antarpribadi yang efektif (Devito,1997: 259).
Penulis mencoba menentukan hal yang mana paling berpengaruh dari tiga faktor tersebut yang paling memengaruhi hubungan antarpribadi untuk menuju komunikasi yang simetris dan harmonis.
Analysis
Timbulnya konflik yang terjadi akibat dari sifat dominasi dari satu terhadap yang lain, sedangkan yang terdominasi hanya berdiam sehingga menimbulkan sikap diam satu sama lain (tidak bertegursapa). Melihat kasus di atas menurut penulis, hal pertama yang paling berpengaruh adalah sebagai berikut:
1.      Keterbukaan
Keterbukaan sikap mengacu pada aspek komunikasi antarpribadi. Pertama, komunikator harus bersikap terbuka pada orang yang diajak berinteraksi. Namun, bukan berarti semua harus dijabarkan mengenai riwayat hidupnya atau hal-hal yang menurutnya sangat vital untuk diketahui orang lain. Kedua, komunikator bersikap jujur terhadap stimulus yang diterimanya. Ketiga, komunikator mengakui apa yang diungkapkannya merupakan perasaan aslinya.
     Keterbukaan adalah tahap awal dan penting untuk memperbaiki hubungan yang sudah berada pada hampir tahap pemutusan. Seseorang atau baik diantara kedua mahasiswi Sumbawa harus mampu mencipkatan iklim saling terbuka, dengan menilai pesan secara objektif, perlakuan Mawar terhadap Vivi yang menggantikan barangnya dengan uang sebesar sembilan ribu rupiah tanpa sepengetahun Vivi merupakan bentuk nonverbal. Pesan nonverbal tidak dapat diartikan secara awam saja namun perlu ditelaah melalui penggunaan data dengan cara mencari informasi dari berbagai sumber mengenai pesan nonverbal tersebut.
Dengan menelaah sumber informasi baik dari Mawar atau sumber lain merupakan bentuk keterbukaan yang berorientasi pada isi pesan. Selain itu sikap dogmatis dengan menafsirkan sendiri perlakuan nonverbal itu justru akan menghancurkan hubungan antarpribadi. Dengan mengubah kepercayaan setelah sumber informasi didapat, maka itu menunjukkan sifat yang proporsional terhadap diri sendiri dan orang lain. Ini adalah bentuk keterbukaan pada interaksi komunikasi antarpribadi dan jujur menerima stimulus.

2.      Kepercayaan
Setelah hubungan itu diawali dengan keterbukaan, maka faktor kedua yang akan muncul adalah kepercayaan. Kepercayaan akan timbul dari hasil keterbukaan yang menjawab sikap-sikap dogmatis dengan komunikasi yang bersifat terbuka, maksud dan tujuannya jelas maka akan tumbuh sikap percaya. Kepercayaan akan membantu untuk memperbaiki dan menumbuhkembangkan hubungan antarpribadi. Ini akan menjadi jalan keterbukaan komunikasi, dimana dapat jelas berorientasi bukan hanya pada isi pesan namun juga relation.
Bagi para partisipan komunikasi antarpribadi setelah mengetahui duduk permasalahan lewat komunikasi terbuka, mereka harus menyatakan ekspektasi yang jelas, menerima sebagaimana adanya dalam arti tidak berusaha mengendalikan, memang sulit mengimplementasikan sikap menerima, kita lebih suka menilai dari pada menerima. Namun dengan ekspektasi yang dinyatakan maka sikap itu akan terpola.
Sean Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective Teens, memperkenalkan konsep Rekening Bank Hubungan (RBH) bahwa seseorang dapat melakukan simpanan dan meningkatkan hubungannya, atau melakukan penarikan dan melemahkan hubungan tersebut. RBH mencerminkan seberapa besar kepercayaan kita dalam setiap hubungan yang kita bina.
Dengan kepercayaan kita dapat memiliki saldo hubungan yang positif dalam hubungan yang kita perbaiki atau baru dimulai. Jika Mawar mencoba membina keretakan hubungannya dengan Vivi, melalui senyuman saat Vivi lewat ini merupakan satu hal tindakan kemajuan positif. Kejujuran perlu dipertahankan untuk menumbuhkan sikap percaya, ini merupakan pondasi penting. Karena kita akan menaruh kepercayaan kepada orang yang jujur.
3.      Sikap Mendukung
Jika kita sudah membuka diri dan menularkan kepercayaan pada seseorang, maka tahap yang terakhir dalam memperbaiki hubungan adalah memoles hubungan tersebut supaya semakin “mengkilat” yaitu dengan sikap mendukung.  Sikap ini timbul dengan cara menghilangkan sikap-sikap defensif. Apabila ingin menumbuhkan hubungan, maka kita tidak perlu mengevaluasi seseorang dengan menilai keburukannya. Analoginya jika luka tersayat pisau sedikit mengering maka jangan siramkan air garam. Mawar dan Vivi dapat meningkatkan hubungan setelah ekspektasi hubungan yang jelas dan didukung kejujuran.  Hal yang perlu dilihat juga dalam sikap saling mendukung adalah kita harus menciptakan kesetaraan supaya tidak ada kesan dominasi yang akan memicu permusuhan kembali. Menciptakan iklim yang setara dalam hubungan antarpribadi sebagai upaya memahami perbedaan, bukan kesempatan untuk saling menjatuhkan.
Prinsip kesetaraan bukan berarti harus setuju dengan perilaku verbal dan nonverbal orang lain, tetapi memberi penghargaan positif kepada orang lain dengan tanpa syarat (Devito,1997: 259). Oleh karena itu penulis memposisikan sikap dukungan sebagai tahap akhir dari mengembangkan hubungan antarpribadi, setelah melalui proses keterbukaan, maka akan muncul rasa percaya pada pihak lain. Pada proses ini mulai membangun hubungan antarpribadi, dan untuk melanggengkan hubungan itu perlu adanya sikap saling mendukung dengan prinsip-prinsip yang perlu diingat dalam setiap prosesnya. Hubungan dengan orang lain adalah seperti kita membuka rekening di Bank, kita dapat sekehendak hati untuk mengisi saldo dengan debet dan kredit yang positif dan negatif. 
           
“You can achieve a lot of things if you honest”

    Awali suatu hubungan dengan kejujuran yang tulus


[1] Muthmainnah, Siti, Psikologi Komunikasi (Jakarta: Universitas Terbuka, 2005)hal.6.20
[2] Rachmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi,(Jakarta: Remaja Rosdakarya, 2007)hal.132
[3] Muthmainnah, Siti, Psikologi Komunikasi (Jakarta: Universitas Terbuka, 2005)hal.6.25

Senin, 25 April 2011

KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA MEMAHAMI INTERAKSI INDIVIDU DENGAN BUDAYA LAIN

          Pemahaman dalam konteks antar budaya itu tidaklah mudah. Disini diperlukan pemahaman yang mendalam. Dari unsur-unsur yang mendasari terjadinya Komunikasi Antar Budaya adalah konsep-konsep budaya dan komunikasi. Sebagaimana dikatakan oleh Sarbaugh dalam (Ilya: Komunikasi Antar Budaya :18).

Pengertian komunikasi antar budaya memerlukan suatu pemahaman tentang konsep-konsep Komunikasi dan Budaya serta saling ketergantungan diantara keduanya. Dan memang antara komunikasi dan budaya itu tidak dapat dipisahkan. Dalam hal ini pengembangan budaya manusia hanya mungkin dilakukan dengan komunikasi dan melalui komunikasi ini budaya dapat ditransmisikan dari satu generasi ke generasi lainya. Seperti yang dikatakan Hall (Gudikunt &Yun Kim, 2002) bahwa budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya. Maka kita mengkomunikasikan apa yang kita kerjakan dalam budaya yang memang sudah kita pelajari mulai dari bahasa, aturan, norma dari mulai kita kecil dan tanpa kita sadari budaya tersebut mempengaruhi perilaku kita khususnya dalam berkomunikasi dengan orang lain.
1.        Proses Komunikasi Persuasi
a.    Temuan Data
Mengkampanyekan mengenai global warming perwakilan dari Asia Moslem Charity Foundation kepada warga masyarakat desa Poncol, Cirendeu.
b.   Analisis Data
Dalam melakukan komunikasi persuasi yang paling penting adalah bagaimana pesan yang kita sampaikan dapat diterima dan diikuti. Dalam menjelaskan masalah ini saya berusaha melakukan persuasi menyinggung aspek rasional dan emosional. Secara rasional maka mampu menguasai komponen kognitif komunikan. Sedangkan persuasi yang dilakukan secara emosional dapat menyentuh aspek afeksi, yaitu hal yang berkaitan dengan kehidupan emosional seseorang. Melalui cara emosional, aspek simpati dan empati seseorang dapat digugah.
            Menjelaskan mengenai global warming secara lebih rasional di hadapan masyarakat dengan melihat kondisi mereka pada tingkat rata-rata edukasi, tidak menggunakan istilah-istilah asing, ringan dan sederhana meskipun ilmiah (data sosial). Dengan hal tersebut akan menyentuh aspek kognitif mereka. Yang menjadi tujuan materi disampaikan adalah tersimpan di long term memory mereka.
            Menjelaskan masalah pemanasan global harus menyentuh mereka secara emosional, menyadarkan bahwa mereka adalah bagian dan dapat mendapatkan efek pula mengenai masalah ini, sehingga aspek simpati mereka terhadap  masalah ini tergugah dan melaksanakan apa yang sudah diajarkan untuk mencegahnya (data psikologis). Selain itu menggunakan teknik integrasi, dimana kita menyatu dengan mereka dan menjadi bagian dari mereka (data kultur).

c.         Faktor Pendukung dan Penghambat
Pada saat memperkenalkan bahaya global warming penulis mengaggap ada faktor yang mendukung kelancaran persuasi ini, di mana komunikan tidak tahu sama sekali tentang pemanasan global sehingga dapat di pengaruhi dengan konsep  yang kita berikan. Namun faktor penghambatnya adalah masalah kebiasaan buruk (buang sampah di sekitar pemukiman) yang perlu ditinggalkan, namun susah bagi mereka karena sudah menjadi kebiasaan. Sehingga mereka lebih banyak mengeluh.
2.    Komunikasi pada Komunitas Berbeda Aliran
a)    Temuan Data
Komunikasi yang terjalin antara NU (penulis) dengan teman dari organisasi masyarakat Muhammadiyah, Tarbiyah, dan Hisbut Tahrir.

b)   Analisis Data
Pada saat masa transisi dari SMA ke PT, saya merasakan perbedaan yang sangat signifikan. Semasa enam tahun di Pesantren saya bergaul dan tumbuh di komunitas NU yang sangat kental, semua kegiatan dijalankan bersama atas dasar worldview yang sama sehingga tidak ada kontak yang bertolak belakang. Ketika saya pindah melanjutkan ke PT, saya tinggal di sebuah yayasan. Di tempat ini saya menemukan teman-teman yang mayoritas berkerudung besar, berbeda dengan saya yang berkerudung standar. Notabene mereka organisasinya Hisbut Tahrir, Partai Keadilan Sejahtera, Muhammadiyah, dan Tarbiyah.
Sebelumnya saya memandang mereka dengan Islam ekstrim, mengingat komunitas saya dahulu adalah NU.  Namun stereotip itu kemudian luntur seiring saya bergaul dengan mereka. Sebagian dari mereka justru menghormati, meskipun tetap memang terdapat beberapa yang fanatik. Salah satu contoh ketika saya sedang bersantai di kamar, secara reflek saya membaca salawat sambil bernyanyi (salawat yang dilafadzkan dengan nada tertentu ). Kemudian teman di kamar saya langsung berkomentar “kamu orang NU ya? Saya paling benci dengan orang NU. Ziarah lah, salawatan lah. Tahlilan lah, Itu tidak boleh. ” Sontak saya terkejut, dan berusaha membela diri dengan mencoba memberikan argumen, namun kemudian ia justru pergi meninggalkan kamar.
Sedangkan yang berbeda aliran namun tetap menghormati satu sama lain menurutnya setelah penulis wawancara langsung alasannya adalah, “perbedaan aliran dan pandangan itu sah-sah saja, namun yang paling penting bagi umat Islam menjaga ukhwah islamiyah. Bukan karena perbedaan pandangan justru memecahkan kita. Dan yang paling penting juga kita umat Islam yang sama-sama percaya keberadaan Allah, dan utusanNya. Tidak perlu ada sinis-sinisan”
Jika dilihat interaksi antara saya dan kedua orang  ini, adalah  pandangan yang fanatik terhadap alirannya di mana ia memandang pandanganorang lain sebagai suatu kesalahan. Sedangankan di sisi lain ia memandang suatu perbedaan dan mencari kesamaan dalam perbedaan aliran. Yaitu kesamaan kepercayaan akan Allah dan Rasul.
c)        Faktor Pendukung dan Penghambat
Rasa persamaan meskipun dalam perbedaan (faktor pendukung). Fanatisme yang terlalu ektrim terhadap pandangan yang lain (faktor penghambat).

3.        Potensial Hambatan KAB
Dalam berkomunikasi menyangkut dua belah pihak yaitu komunikator dan komunikan. Masing-masing mempunyai potensi hambatan. Potensi hambatan itu sendiri antara lain:
1.        Keanekaragaman dari Tujuan Komunikasi, Masalah komunikasi sering terjadi karena keberagaman tujuan, alasan, dan motivasi.
2.        Etnosentrisme
Menurut The Random House Dictionary etnosentrisme adalah kepercayaan pada superioritas kelompok atau budayanya sendiri, etnosentrisme cenderung menganggap rendah orang-orang yang dianggap asing dan memandang atau mengukur budayanya dan membandingkan dengan budaya asing. Karena etnosentrisme biasanya dipelajari pada tingkat ketidaksadaran dan diwujudkan pada tingkat kesadaran, sehingga sulit untuk melacak asal usulnya. Bahayanya penilian itu sering kali salah, semena-mena dan tidak berdasar sama sekali.
3.        Tidak Ada Kepercayaan
Karena sifatnya yang khusus komunikasi antar budaya merupakan peristiwa pertukaran informasi yang peka terhadap kemungkinan terdapatnya ketidakpercayaan antara pihak-pihak yang terlibat. Orang umumnya segan untuk mengambil resiko berhubungan dengan orang asing. 
4.        Penarikan Diri
Komunikasi tidak akan terjadi apabila salah satunya menarik diri karena sifatnya yang khusus komunikasi antarbudaya merupakan peristiwa pertukaran informasi yang peka terhadap kemungkinan terdapatnya ketidakpercayaan antara pihak-pihak yang terlibat. Orang umumnya segan untuk mengambil resiko berhubungan dengan orang asing.   
5.        Tidak Ada Empati
Beberapa hal yang menghambat empati antara lain:
Fokus terhadap diri sendiri secara terus menerus, adalah sulit untuk memusatkan perhatian pada orang lain kalau kita berpikir tentang diri kita secara terus menerus dan bagaimana orang menyukai kita;
Ø  Pandangan-pandangan stereotip mengenai ras dan kebudayaan;
Ø  Kurangnya pengetahuan terhadap kelompok, kelas atau orang tertentu;
Ø  Tingkah laku yang menjauhkan orang untuk mengungkapakan informasi;
Ø  Tindakan atau ucapan yang seoalah-olah menilai orang lain;
Ø  Sikap tidak tertarik;
Ø  Kekuasaan, kekuasaan digunakan untuk mengontrol atau menentukan tindakan orang lain.
a)        Temuan dan Analisis Data:
Dalam hal ini penulis akan menilik peristiwa mengenai teman sekamar yang baru saja lulus sekolah menengah. Singkatnya, ia berasal dari Magelang dan kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta. Saat pertama kali ia masuk kuliah ia merasa asing karena berbaur dengan orang baru (Betawi) rata-rata orang berlogat Betawi dan cablak. Dalam hal belajar secara kolektif ia lebih memilih pada teman-teman yang berasal dari Jawa dan tidak cabak menurutnya (etnosentrisme). Karena ia tidak mau mengambil resiko baik mengenai pandangan, takut dikatakan tidak gaul karena tidak kejakartaan.
Hal ini karena pandangan stereotip mengenai ras dan kebudayaan yang belum ia ketahui. Dan informasi yang ia ketahui hanya orang-orang yang berbicara terang-terangan (baca: Cablak). Sekat ini menimbulkan sikap tidak tertarik dan segan karena bukan berasal dari satu ras atau kebudayaan yang sama dan akhirnya berefek pada penarikan diri dari komunitas tersebut.
b)       Faktor Penghambat
Ø  Ketidaktahuan mengenai informasi kelompok;
Ø  Stereotip yang belum tentu kebenarannya;
Ø  Perasaan segan dan cemas.

4.        Kontak Antar Agama
a)        Temuan Data
Berinteraksi dengan guru baru berasal dari Amerika beragama kristen.

b)       Analisis Data
Saat pertama kali melakukan komunikasi dengan orang asing, muncul kecemasan dalam diri bahwa ia bukan kelompok kita dan kita harus berhati-hati. Kita akan melakukan prediksi-prediksi perilaku terhadap mereka. Dalam tataran komunikasi antarbudaya seperti yang dinyatakan oleh Miller dan Steinberg kita menggunkan data kultural orang asing tersebut dan digunakan untuk memprediksi atau memperkirakan perilakunya.
Ada dua faktor yang mempengaruhi keakuratan prediksi kita ketika menggunakan data kultural yaitu (1) Banyaknya pengalaman pada level kultural yang kita punya. Yaitu tergantung pengalaman kita tentang budaya mereka.(2) Kesalahan yang dibuat karena kita tidak menyadari pengalaman budaya dari stranger tersebut atau karena kita memprediksi dengan pengalaman dasar budaya yang berbeda dari seseorang yang kita gunakan. Disamping itu data prediksi sociological hal ini berdasarkan pada anggota anggota dari stranger atau aspirasi-aspirasi dalam kelompok sosial tersebut.
Prediksi ini berdasarkan pada orang-orang yang spesifik yang berkomunikasi dengan kita. Ketika menggunakan data ini kita concern pada bagaimana orang-orang ini berbeda dan sama dari anggota lain dari budaya dan kelompok yang mereka miliki.Menurut Stephan dan Stephan dalam Gudikunst kita merasa takut pada konsekuensi negatif ketika berinteraksi dengan strangers yaitu (1) Kita merasa takut konsekuensi negatif untuk konsep self kita. Kita juga takut kehilangan self esteem yang akan mengancam identitas sosial kita dan kita merasa bersalah kalau kita berkelakuan yang menyakiti strangers.(2) Kita merasa takut konsekuensi perilaku negatif kita. Kita merasa mereka akan mengeksploitasi kita, mengambil keuntungan, mencoba mendominasi kita, dan juga khawatir terjadinya konflik verbal.(3) Kita takut mengevaluasi negatif para strangers.(4) Kita takut dievaluasi negatif oleh anggota ingroup kita
Kecemasan-kecemasan yang pertama bahwa pandangan saya mengenainya dengan datang ke Pesantren untuk mengajar secara sukarela awalnya membuat saya merasa waspada dalam konteks saya dan lingkungan saya adalah Islam, dan dia western yang memiliki pandangan “lain” mengenai agama Islam. Kali pertama komunikasi saya alami ketika berkomunkasi dengan orang baru khususnya guru baru di sekolah saya yang berasal dari Amerika Serikat bernama Lee Becker. Kecemasan yang terjadi adalah masalah bahasa. Yang kedua adalah stereotip dari pihak Barat mengenai Islam, saya jadi merasa terbebani dengan stereotip itu dan bagaimana caranya menciptakan kesan yang baik di hadapannya. Kecemasan itu terbentuk menjadi kata-kata selalu mengatakan “sorry” pada saat berbicara. Sampai saya sadar ketika Mr.lee Becker menegur saya kenapa saya selalu bilang “sorry”.
c)        Faktor Penghambat
Pertemuan dengan orang asing membawa kejutan (ketidakpastian) dan tekanan (kecemasan). Beberapa kejutan dapat mengguncang konsep diri kita dan identitas budaya kita dan membawa kecemasan karena alasan pandangan mereka terhadap Islam Bahwa Islam teroris atau stereotip yang terbangun sebelumnya.

5.        Dialog Agama
Pluralitas agama di era globalisasi yang menjadi karakteristik dari bangsa Indonesia yang heterogen. Sehingga tak bisa dipungkiri, pluralitas agama ini memiliki potensi dan peran sangat besar bagi kemajuan bangsa. Islam mengajarkan dalam al-Qur’ân surat al-Hujurât: 10 : “Sesungguhnya orang-orang beriman itu tidak lain adalah  bersaudara. Maka, damaikanlah antara dua saudaramu, dan bertakwalah pada Allah supaya kamu dirahmati”. 
Sebenarnya perspektif dimensi agama, ajaran agama mengandung klaim kebenaran yang bersifat universal. Hal ini memungkinkan terjadi ambiguitas dalam interpretasi menurut tingkat pemahaman, penghayatan, dan moralitasspiritualitas penganutnya. Fenomena ini tampak dalam penggunaan konsepkonsep atau simbol-simbol agama untuk  orientasi tertentu ketika melibatkan emosi keagamaan penganutnya.
Untuk itu, menghindari konflik atau mewujudkan kerukunan umat beragama merupakan nilai universal. Dengan nilai ini, semua manusia melalui  agamanya diharapkan dapat hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, saling toleransi, dan bekerjasama dalam menangani persoalan kemanusiaan. Di antara usaha untuk penghindari konflik atau mewujudkan kerukunan umat beragama itu, tentunya ada upaya untuk saling mengenal di antara agama-agama melalui dialog antar umat beragama.                                               
a)        Temuan Data
Penulis mengikuti sekolah antar agama dan bincang-bincang lintas agama yang diselenggarakan oleh ICRP.
b)       Analisis Data
Sekolah ini (ICRP) mengadakan pertemuan rutin dwi mingguan stakeholder ICRP yang mayoritas adalah kalangan muda lintas agama. Forum diskusi ini diarahkan untuk menciptakan kader-kader peduli pluralisme dan memiliki pengetahuan dan sensitivitas terhadap perbedaan-perbedaan yang ada dalam agama-agama untuk kemudianmengelolanya menjadi kekayaan yang berorientasi pada integrasi bangsa dan bangunan pluralisme yang kokoh.
6.        Strategi untuk Peningkatan KAB
Interaksi antar budaya yang berhasil adalah didasarkan pada komunikasi yang efektif. Berikut ini merupakan teknik dan kiat yang dapat membantu mengembangkan sikap saat berkomunikasi antar budaya.
1.        Mengenal Diri Sendiri
2.        Menggunakan kode yang sama
3.        Menunda penilaian, jangan terburu-buru menilai orang lain
4.        Memperhitungkan lingkungan fisik manusia
5.        Meningkatkan ketrampilan berkomunikasi
6.        Mengembangkan empati
7.        Mencari kebersamaan diantara kebudayaan.

a)        Temuan dan Analisis Data 
Penulis berkomunikasi dengan teman yang berasal dari Somalia dan tinggal di asrama yang sama. Karena sebelumnya sudah pernah berkomunikasi dengan orang asing, saya merasa dapat beradaptasi lebih baik tanpa kecemasan yang berlebihan (mengenal diri sendiri melalui pengalaman). Awal pertemuan dengan mahasiswi asal Somalia ini saya tanggapi dengan santai, meskipun awalnya saya merasa sedikit aneh karena ia dan teman-temannya berkulit hitam pekat. Namun untuk penilaian sikap, saya mengikuti dari pola komunikasi yang terjadi di antara kami. Dalam berkomunikasi kami menggunakan bahasa Inggris, di mana bahasa ini sudah menjadi bahasa internasional dan menjadi kode yang sama.
Jika mengobrol santai, terkadang kami menemukan hal yang sama dalam hal bahasa penyebutan seperti termos. Di Indonesia menyebutkan tempat air panas adalah termos, di Somalia juga menyebutnya dengan termos.  Terdapat beberapa bahasa nonverbal yang yang berbeda, yaitu salah satunya cara bersalaman antara Indonesia dan Somalia. Orang somalia cara bersalaman pertemuan antara telapak tangan sampai berbunyi atau hampir sama seperi “tos” namun tidak sekuat tos.