Example Case
Mediasi merupakan tahap atau upaya untuk memperbaiki hubungan apabila mengalami pemutusan hubungan antarpribadi. Penulis secara pribadi pernah menjadi mediator pada suatu permasalahan diantara mahasiswi berasal dari daerah yang sama. Persamaan daerah bukan jaminan sifat keadatan yang sama. Salah satu contoh mahasiswi yang berasal dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Sebut saja Mawar dan Vivi. Mereka mahasiswi semester dua di Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta, tinggal pada satu kamar dan satu kelas yang sama.
Meskipun berada pada satu rumpun baik asal, kelas, dan kamar hubungan mereka bersifat regresif. Sifat mengendalikan satu terhadap yang lain, sering menyuruh dan saling menyalahkan sikap membuat keduanya tidak saling menyapa. Kemudian penulis mencoba menjadi mediator diantara keduanya. Mediasi berujung dengan baik dimana kedua mahasiswi tersebut mampu membuka diri dan memaafkan satu sama lain, meskipun pada proses mediasi melewati polemik dan masalah yang rumit. Dua minggu setelah mediasi itu, hubungan keduanya membaik dan mulai melakukan kegiatan dimana mereka berkontribusi atau hanya sekedar hangout bersama.
Namun tak sampai hingga satu bulan hubungan mereka memburuk seperti sebelumnya. Setelah penulis menanyakan kepada Vivi mengapa terjadi demikian, ia menjawab Mawar telah menyinggung perasaannya secara nonverbal. Bahwa Mawar mengganti barang milik Vivi yang dibeli oleh temannya dengan uang sebesar sembilan ribu rupiah. Perasaan ini tidak Vivi sampaikan kepada Mawar mengenai apa maksud dan tujuan perlakuan tersebut, yang akhirnya membuat Vivi berdiam dan tidak bertegursapa dengan Mawar meskipun mereka berada pada satu kamar. Sikap berdiam diri mereka lakukan hingga berbulan-bulan, dan tidak ada kata-kata atau keterangan yang mereka berikan baik dari Vivi maupun Mawar mengapa bersikap demikian.
Dengan kasus dan subjek yang sama, konflik dapat terjadi berkali-kali meskipun sudah melewati mediasi. Oleh karena itu, penulis tergelitik melihat pola komunikasi mereka untuk dijadikan sumber masalah dalam penelitian kecil ini.
Humanistic Aspect
Setelah melihat bagaimana konflik pada contoh kasus di atas, hubungan komunikasi tidak bersifat statis namun dinamis. Kehadiran konflik merupakan salah satu dinamika komunikasi manusia (Muthmainnah dkk., 2005: 6.23). Jika konflik dapat diselesaikan dengan baik, perkembangan hubungan akan menjadi lebih baik, tetapi sebaliknya konflik dapat suatu hubungan melemah dan hancur. Menurut R.D Nye, ada lima sumber konflik, yaitu:
1. Kompetisi: salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain.
2. Dominasi: salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang itu merasa hak-haknya dilanggar.
3. Kegagalan: masing-masing pihak menyalahkan yang lain jika tujuan bersama tidak tercapai.
4. Provokasi: salah satu pihak terus menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung perasaan orang lain.
5. Perbedaan nilai: kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.[1]
Konflik akan memengaruhi pola komunikasi. sedangkan pola komunikasi antarpribadi akan memengaruhi hubungan antarpribadi itu sendiri. Yang perlu digarisbawahi, bukan intensitas pertemuan atau komunikasi antarpribadi yang menjadikan hubungan lebih baik, namun kualitas dari komunikasi antarpribadi tersebut. Untuk meningkatkan hubungan komunikasi antarpribadi yang lebih baik, Jaluddin Rachmat (2007: 129) menyatakan ada tiga faktor yang dapat menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi interpersonal, yakni:
1. Percaya (Trust)
Secara ilmiah percaya didefinisikan sebagai “mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh resiko” (Griffin, 1967:224-234 dalam Rakhmat, Remaja Rosdakarya 2007:130). Menurut Johnson (1981), mempercayai meliputi membuka diri dan rela menunjukkan penerimaan dan dukungan kepada orang lain. Keuntungan mempercayai orang lain di paparkan oleh Rakhmat (2004:130).
Kepercayaan meningkatkan hubungan komunikasi antarpribadi, dengan kepercayaan sesorang akan membuka, memperjelas, dan memperluas komunikasi. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kepercayaan yakni, menerima, empati, dan jujur.
2. Sikap Mendukung (Supportif)
Sikap suportif merupakan upaya mengurangi sikap defensif dalam komunikasi.Orang defensif cenderung tidak menerima, tidak jujur dan tidak empatis. Hal ini haruslah dihindari agar komunikasi antar pribadi dapat berlangsung efektif.[2]
3. Sikap Terbuka (Open Mindedness)
Sikap terbuka memiliki karakteristik: (1) menilai pesan secara objektif; (2) mampu melihat dengan mudah, dapat melihat suasana; (3) berorientasi pada isi pesan; (4) mencari informasi dari berbagai sumber; (5) lebih bersifat provosionalis; dan (6) mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaannya.[3]
Tiga faktor di atas mendukung dan menciptakan interaksi yang harmonis. Ancangan tiga hal ini menurut para filsuf humanis menentukan terciptanya hubungan antarmanusia yang superior. Dari kualitas umum, kemudian dapat menurunkan perilaku yang spesifik sebagai tanda komunikasi antarpribadi yang efektif (Devito,1997: 259).
Penulis mencoba menentukan hal yang mana paling berpengaruh dari tiga faktor tersebut yang paling memengaruhi hubungan antarpribadi untuk menuju komunikasi yang simetris dan harmonis.
Analysis
Timbulnya konflik yang terjadi akibat dari sifat dominasi dari satu terhadap yang lain, sedangkan yang terdominasi hanya berdiam sehingga menimbulkan sikap diam satu sama lain (tidak bertegursapa). Melihat kasus di atas menurut penulis, hal pertama yang paling berpengaruh adalah sebagai berikut:
1. Keterbukaan
Keterbukaan sikap mengacu pada aspek komunikasi antarpribadi. Pertama, komunikator harus bersikap terbuka pada orang yang diajak berinteraksi. Namun, bukan berarti semua harus dijabarkan mengenai riwayat hidupnya atau hal-hal yang menurutnya sangat vital untuk diketahui orang lain. Kedua, komunikator bersikap jujur terhadap stimulus yang diterimanya. Ketiga, komunikator mengakui apa yang diungkapkannya merupakan perasaan aslinya.
Keterbukaan adalah tahap awal dan penting untuk memperbaiki hubungan yang sudah berada pada hampir tahap pemutusan. Seseorang atau baik diantara kedua mahasiswi Sumbawa harus mampu mencipkatan iklim saling terbuka, dengan menilai pesan secara objektif, perlakuan Mawar terhadap Vivi yang menggantikan barangnya dengan uang sebesar sembilan ribu rupiah tanpa sepengetahun Vivi merupakan bentuk nonverbal. Pesan nonverbal tidak dapat diartikan secara awam saja namun perlu ditelaah melalui penggunaan data dengan cara mencari informasi dari berbagai sumber mengenai pesan nonverbal tersebut.
Dengan menelaah sumber informasi baik dari Mawar atau sumber lain merupakan bentuk keterbukaan yang berorientasi pada isi pesan. Selain itu sikap dogmatis dengan menafsirkan sendiri perlakuan nonverbal itu justru akan menghancurkan hubungan antarpribadi. Dengan mengubah kepercayaan setelah sumber informasi didapat, maka itu menunjukkan sifat yang proporsional terhadap diri sendiri dan orang lain. Ini adalah bentuk keterbukaan pada interaksi komunikasi antarpribadi dan jujur menerima stimulus.
2. Kepercayaan
Setelah hubungan itu diawali dengan keterbukaan, maka faktor kedua yang akan muncul adalah kepercayaan. Kepercayaan akan timbul dari hasil keterbukaan yang menjawab sikap-sikap dogmatis dengan komunikasi yang bersifat terbuka, maksud dan tujuannya jelas maka akan tumbuh sikap percaya. Kepercayaan akan membantu untuk memperbaiki dan menumbuhkembangkan hubungan antarpribadi. Ini akan menjadi jalan keterbukaan komunikasi, dimana dapat jelas berorientasi bukan hanya pada isi pesan namun juga relation.
Bagi para partisipan komunikasi antarpribadi setelah mengetahui duduk permasalahan lewat komunikasi terbuka, mereka harus menyatakan ekspektasi yang jelas, menerima sebagaimana adanya dalam arti tidak berusaha mengendalikan, memang sulit mengimplementasikan sikap menerima, kita lebih suka menilai dari pada menerima. Namun dengan ekspektasi yang dinyatakan maka sikap itu akan terpola.
Sean Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective Teens, memperkenalkan konsep Rekening Bank Hubungan (RBH) bahwa seseorang dapat melakukan simpanan dan meningkatkan hubungannya, atau melakukan penarikan dan melemahkan hubungan tersebut. RBH mencerminkan seberapa besar kepercayaan kita dalam setiap hubungan yang kita bina.
Dengan kepercayaan kita dapat memiliki saldo hubungan yang positif dalam hubungan yang kita perbaiki atau baru dimulai. Jika Mawar mencoba membina keretakan hubungannya dengan Vivi, melalui senyuman saat Vivi lewat ini merupakan satu hal tindakan kemajuan positif. Kejujuran perlu dipertahankan untuk menumbuhkan sikap percaya, ini merupakan pondasi penting. Karena kita akan menaruh kepercayaan kepada orang yang jujur.
3. Sikap Mendukung
Jika kita sudah membuka diri dan menularkan kepercayaan pada seseorang, maka tahap yang terakhir dalam memperbaiki hubungan adalah memoles hubungan tersebut supaya semakin “mengkilat” yaitu dengan sikap mendukung. Sikap ini timbul dengan cara menghilangkan sikap-sikap defensif. Apabila ingin menumbuhkan hubungan, maka kita tidak perlu mengevaluasi seseorang dengan menilai keburukannya. Analoginya jika luka tersayat pisau sedikit mengering maka jangan siramkan air garam. Mawar dan Vivi dapat meningkatkan hubungan setelah ekspektasi hubungan yang jelas dan didukung kejujuran. Hal yang perlu dilihat juga dalam sikap saling mendukung adalah kita harus menciptakan kesetaraan supaya tidak ada kesan dominasi yang akan memicu permusuhan kembali. Menciptakan iklim yang setara dalam hubungan antarpribadi sebagai upaya memahami perbedaan, bukan kesempatan untuk saling menjatuhkan.
Prinsip kesetaraan bukan berarti harus setuju dengan perilaku verbal dan nonverbal orang lain, tetapi memberi penghargaan positif kepada orang lain dengan tanpa syarat (Devito,1997: 259). Oleh karena itu penulis memposisikan sikap dukungan sebagai tahap akhir dari mengembangkan hubungan antarpribadi, setelah melalui proses keterbukaan, maka akan muncul rasa percaya pada pihak lain. Pada proses ini mulai membangun hubungan antarpribadi, dan untuk melanggengkan hubungan itu perlu adanya sikap saling mendukung dengan prinsip-prinsip yang perlu diingat dalam setiap prosesnya. Hubungan dengan orang lain adalah seperti kita membuka rekening di Bank, kita dapat sekehendak hati untuk mengisi saldo dengan debet dan kredit yang positif dan negatif.
“You can achieve a lot of things if you honest”
Awali suatu hubungan dengan kejujuran yang tulus