Laman

Rabu, 27 April 2011

Faktor yang Mempengaruh Hubungan Antarpribadi

Example Case
            Mediasi  merupakan tahap atau upaya untuk memperbaiki hubungan apabila mengalami pemutusan hubungan antarpribadi. Penulis secara pribadi pernah menjadi mediator pada suatu permasalahan diantara mahasiswi berasal dari daerah yang sama. Persamaan daerah bukan jaminan sifat keadatan yang sama. Salah satu contoh mahasiswi yang berasal dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Sebut saja Mawar dan Vivi. Mereka mahasiswi semester dua di Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta, tinggal pada satu kamar dan satu kelas yang sama.
Meskipun berada pada satu rumpun baik asal, kelas, dan kamar hubungan mereka bersifat regresif. Sifat mengendalikan satu terhadap yang lain, sering menyuruh dan saling menyalahkan sikap membuat keduanya tidak saling menyapa. Kemudian penulis mencoba menjadi mediator diantara keduanya.  Mediasi berujung dengan baik dimana kedua mahasiswi tersebut mampu membuka diri dan memaafkan satu sama lain, meskipun pada proses mediasi melewati polemik dan masalah yang rumit. Dua minggu setelah mediasi itu, hubungan keduanya membaik dan mulai melakukan kegiatan dimana mereka berkontribusi atau hanya sekedar hangout bersama.
Namun tak sampai hingga satu bulan hubungan mereka memburuk seperti sebelumnya. Setelah penulis menanyakan kepada Vivi mengapa terjadi demikian, ia menjawab Mawar telah menyinggung perasaannya secara nonverbal. Bahwa Mawar mengganti barang milik Vivi yang dibeli oleh temannya dengan uang sebesar sembilan ribu rupiah. Perasaan ini tidak Vivi sampaikan kepada Mawar mengenai apa maksud dan tujuan perlakuan tersebut, yang akhirnya membuat Vivi berdiam dan tidak bertegursapa dengan Mawar meskipun mereka berada pada satu kamar. Sikap berdiam diri mereka lakukan hingga berbulan-bulan, dan tidak ada kata-kata atau keterangan yang mereka berikan baik dari Vivi maupun Mawar mengapa bersikap demikian.
Dengan kasus dan subjek yang sama, konflik dapat terjadi berkali-kali meskipun sudah  melewati mediasi. Oleh karena itu, penulis tergelitik melihat pola komunikasi mereka untuk dijadikan sumber masalah dalam penelitian kecil ini.

Humanistic Aspect
Setelah melihat bagaimana konflik pada contoh kasus di atas, hubungan komunikasi tidak bersifat statis namun dinamis. Kehadiran konflik merupakan salah satu dinamika komunikasi manusia (Muthmainnah dkk., 2005: 6.23). Jika konflik dapat diselesaikan dengan baik, perkembangan hubungan akan menjadi lebih baik, tetapi sebaliknya konflik dapat suatu hubungan melemah dan hancur. Menurut R.D Nye, ada lima sumber konflik, yaitu:
1.      Kompetisi: salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain.
2.      Dominasi: salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang itu merasa hak-haknya dilanggar.
3.      Kegagalan: masing-masing pihak menyalahkan yang lain jika tujuan bersama tidak tercapai.
4.      Provokasi: salah satu pihak terus menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung perasaan orang lain.
5.      Perbedaan nilai: kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.[1]
Konflik akan memengaruhi pola komunikasi. sedangkan pola komunikasi antarpribadi akan memengaruhi hubungan antarpribadi itu sendiri. Yang perlu digarisbawahi, bukan intensitas pertemuan atau komunikasi antarpribadi yang menjadikan hubungan lebih baik, namun kualitas dari komunikasi antarpribadi tersebut. Untuk meningkatkan hubungan komunikasi antarpribadi yang lebih baik, Jaluddin Rachmat (2007: 129) menyatakan  ada tiga faktor yang dapat menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi interpersonal, yakni:
1.      Percaya (Trust)
Secara ilmiah percaya didefinisikan sebagai “mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki,  yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh resiko” (Griffin, 1967:224-234 dalam Rakhmat, Remaja Rosdakarya 2007:130). Menurut Johnson (1981), mempercayai meliputi membuka diri dan rela menunjukkan penerimaan dan dukungan kepada orang lain. Keuntungan mempercayai orang lain di paparkan oleh Rakhmat (2004:130).
Kepercayaan meningkatkan hubungan komunikasi antarpribadi, dengan kepercayaan sesorang akan membuka, memperjelas, dan memperluas komunikasi. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kepercayaan yakni, menerima, empati, dan jujur.

2.      Sikap Mendukung (Supportif)
Sikap suportif merupakan upaya  mengurangi sikap defensif dalam komunikasi.Orang defensif cenderung tidak menerima, tidak jujur dan tidak empatis. Hal ini haruslah dihindari agar komunikasi antar pribadi dapat berlangsung efektif.[2]

3.      Sikap Terbuka (Open Mindedness)
Sikap terbuka memiliki karakteristik: (1) menilai pesan secara objektif; (2) mampu melihat dengan mudah, dapat melihat suasana; (3) berorientasi pada isi pesan; (4) mencari informasi dari berbagai sumber; (5) lebih bersifat provosionalis; dan (6) mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaannya.[3]
Tiga faktor di atas mendukung dan menciptakan interaksi yang harmonis. Ancangan tiga hal ini menurut para filsuf humanis menentukan terciptanya hubungan antarmanusia yang superior. Dari kualitas umum, kemudian dapat menurunkan perilaku yang spesifik sebagai tanda komunikasi antarpribadi yang efektif (Devito,1997: 259).
Penulis mencoba menentukan hal yang mana paling berpengaruh dari tiga faktor tersebut yang paling memengaruhi hubungan antarpribadi untuk menuju komunikasi yang simetris dan harmonis.
Analysis
Timbulnya konflik yang terjadi akibat dari sifat dominasi dari satu terhadap yang lain, sedangkan yang terdominasi hanya berdiam sehingga menimbulkan sikap diam satu sama lain (tidak bertegursapa). Melihat kasus di atas menurut penulis, hal pertama yang paling berpengaruh adalah sebagai berikut:
1.      Keterbukaan
Keterbukaan sikap mengacu pada aspek komunikasi antarpribadi. Pertama, komunikator harus bersikap terbuka pada orang yang diajak berinteraksi. Namun, bukan berarti semua harus dijabarkan mengenai riwayat hidupnya atau hal-hal yang menurutnya sangat vital untuk diketahui orang lain. Kedua, komunikator bersikap jujur terhadap stimulus yang diterimanya. Ketiga, komunikator mengakui apa yang diungkapkannya merupakan perasaan aslinya.
     Keterbukaan adalah tahap awal dan penting untuk memperbaiki hubungan yang sudah berada pada hampir tahap pemutusan. Seseorang atau baik diantara kedua mahasiswi Sumbawa harus mampu mencipkatan iklim saling terbuka, dengan menilai pesan secara objektif, perlakuan Mawar terhadap Vivi yang menggantikan barangnya dengan uang sebesar sembilan ribu rupiah tanpa sepengetahun Vivi merupakan bentuk nonverbal. Pesan nonverbal tidak dapat diartikan secara awam saja namun perlu ditelaah melalui penggunaan data dengan cara mencari informasi dari berbagai sumber mengenai pesan nonverbal tersebut.
Dengan menelaah sumber informasi baik dari Mawar atau sumber lain merupakan bentuk keterbukaan yang berorientasi pada isi pesan. Selain itu sikap dogmatis dengan menafsirkan sendiri perlakuan nonverbal itu justru akan menghancurkan hubungan antarpribadi. Dengan mengubah kepercayaan setelah sumber informasi didapat, maka itu menunjukkan sifat yang proporsional terhadap diri sendiri dan orang lain. Ini adalah bentuk keterbukaan pada interaksi komunikasi antarpribadi dan jujur menerima stimulus.

2.      Kepercayaan
Setelah hubungan itu diawali dengan keterbukaan, maka faktor kedua yang akan muncul adalah kepercayaan. Kepercayaan akan timbul dari hasil keterbukaan yang menjawab sikap-sikap dogmatis dengan komunikasi yang bersifat terbuka, maksud dan tujuannya jelas maka akan tumbuh sikap percaya. Kepercayaan akan membantu untuk memperbaiki dan menumbuhkembangkan hubungan antarpribadi. Ini akan menjadi jalan keterbukaan komunikasi, dimana dapat jelas berorientasi bukan hanya pada isi pesan namun juga relation.
Bagi para partisipan komunikasi antarpribadi setelah mengetahui duduk permasalahan lewat komunikasi terbuka, mereka harus menyatakan ekspektasi yang jelas, menerima sebagaimana adanya dalam arti tidak berusaha mengendalikan, memang sulit mengimplementasikan sikap menerima, kita lebih suka menilai dari pada menerima. Namun dengan ekspektasi yang dinyatakan maka sikap itu akan terpola.
Sean Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective Teens, memperkenalkan konsep Rekening Bank Hubungan (RBH) bahwa seseorang dapat melakukan simpanan dan meningkatkan hubungannya, atau melakukan penarikan dan melemahkan hubungan tersebut. RBH mencerminkan seberapa besar kepercayaan kita dalam setiap hubungan yang kita bina.
Dengan kepercayaan kita dapat memiliki saldo hubungan yang positif dalam hubungan yang kita perbaiki atau baru dimulai. Jika Mawar mencoba membina keretakan hubungannya dengan Vivi, melalui senyuman saat Vivi lewat ini merupakan satu hal tindakan kemajuan positif. Kejujuran perlu dipertahankan untuk menumbuhkan sikap percaya, ini merupakan pondasi penting. Karena kita akan menaruh kepercayaan kepada orang yang jujur.
3.      Sikap Mendukung
Jika kita sudah membuka diri dan menularkan kepercayaan pada seseorang, maka tahap yang terakhir dalam memperbaiki hubungan adalah memoles hubungan tersebut supaya semakin “mengkilat” yaitu dengan sikap mendukung.  Sikap ini timbul dengan cara menghilangkan sikap-sikap defensif. Apabila ingin menumbuhkan hubungan, maka kita tidak perlu mengevaluasi seseorang dengan menilai keburukannya. Analoginya jika luka tersayat pisau sedikit mengering maka jangan siramkan air garam. Mawar dan Vivi dapat meningkatkan hubungan setelah ekspektasi hubungan yang jelas dan didukung kejujuran.  Hal yang perlu dilihat juga dalam sikap saling mendukung adalah kita harus menciptakan kesetaraan supaya tidak ada kesan dominasi yang akan memicu permusuhan kembali. Menciptakan iklim yang setara dalam hubungan antarpribadi sebagai upaya memahami perbedaan, bukan kesempatan untuk saling menjatuhkan.
Prinsip kesetaraan bukan berarti harus setuju dengan perilaku verbal dan nonverbal orang lain, tetapi memberi penghargaan positif kepada orang lain dengan tanpa syarat (Devito,1997: 259). Oleh karena itu penulis memposisikan sikap dukungan sebagai tahap akhir dari mengembangkan hubungan antarpribadi, setelah melalui proses keterbukaan, maka akan muncul rasa percaya pada pihak lain. Pada proses ini mulai membangun hubungan antarpribadi, dan untuk melanggengkan hubungan itu perlu adanya sikap saling mendukung dengan prinsip-prinsip yang perlu diingat dalam setiap prosesnya. Hubungan dengan orang lain adalah seperti kita membuka rekening di Bank, kita dapat sekehendak hati untuk mengisi saldo dengan debet dan kredit yang positif dan negatif. 
           
“You can achieve a lot of things if you honest”

    Awali suatu hubungan dengan kejujuran yang tulus


[1] Muthmainnah, Siti, Psikologi Komunikasi (Jakarta: Universitas Terbuka, 2005)hal.6.20
[2] Rachmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi,(Jakarta: Remaja Rosdakarya, 2007)hal.132
[3] Muthmainnah, Siti, Psikologi Komunikasi (Jakarta: Universitas Terbuka, 2005)hal.6.25

Senin, 25 April 2011

KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA MEMAHAMI INTERAKSI INDIVIDU DENGAN BUDAYA LAIN

          Pemahaman dalam konteks antar budaya itu tidaklah mudah. Disini diperlukan pemahaman yang mendalam. Dari unsur-unsur yang mendasari terjadinya Komunikasi Antar Budaya adalah konsep-konsep budaya dan komunikasi. Sebagaimana dikatakan oleh Sarbaugh dalam (Ilya: Komunikasi Antar Budaya :18).

Pengertian komunikasi antar budaya memerlukan suatu pemahaman tentang konsep-konsep Komunikasi dan Budaya serta saling ketergantungan diantara keduanya. Dan memang antara komunikasi dan budaya itu tidak dapat dipisahkan. Dalam hal ini pengembangan budaya manusia hanya mungkin dilakukan dengan komunikasi dan melalui komunikasi ini budaya dapat ditransmisikan dari satu generasi ke generasi lainya. Seperti yang dikatakan Hall (Gudikunt &Yun Kim, 2002) bahwa budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya. Maka kita mengkomunikasikan apa yang kita kerjakan dalam budaya yang memang sudah kita pelajari mulai dari bahasa, aturan, norma dari mulai kita kecil dan tanpa kita sadari budaya tersebut mempengaruhi perilaku kita khususnya dalam berkomunikasi dengan orang lain.
1.        Proses Komunikasi Persuasi
a.    Temuan Data
Mengkampanyekan mengenai global warming perwakilan dari Asia Moslem Charity Foundation kepada warga masyarakat desa Poncol, Cirendeu.
b.   Analisis Data
Dalam melakukan komunikasi persuasi yang paling penting adalah bagaimana pesan yang kita sampaikan dapat diterima dan diikuti. Dalam menjelaskan masalah ini saya berusaha melakukan persuasi menyinggung aspek rasional dan emosional. Secara rasional maka mampu menguasai komponen kognitif komunikan. Sedangkan persuasi yang dilakukan secara emosional dapat menyentuh aspek afeksi, yaitu hal yang berkaitan dengan kehidupan emosional seseorang. Melalui cara emosional, aspek simpati dan empati seseorang dapat digugah.
            Menjelaskan mengenai global warming secara lebih rasional di hadapan masyarakat dengan melihat kondisi mereka pada tingkat rata-rata edukasi, tidak menggunakan istilah-istilah asing, ringan dan sederhana meskipun ilmiah (data sosial). Dengan hal tersebut akan menyentuh aspek kognitif mereka. Yang menjadi tujuan materi disampaikan adalah tersimpan di long term memory mereka.
            Menjelaskan masalah pemanasan global harus menyentuh mereka secara emosional, menyadarkan bahwa mereka adalah bagian dan dapat mendapatkan efek pula mengenai masalah ini, sehingga aspek simpati mereka terhadap  masalah ini tergugah dan melaksanakan apa yang sudah diajarkan untuk mencegahnya (data psikologis). Selain itu menggunakan teknik integrasi, dimana kita menyatu dengan mereka dan menjadi bagian dari mereka (data kultur).

c.         Faktor Pendukung dan Penghambat
Pada saat memperkenalkan bahaya global warming penulis mengaggap ada faktor yang mendukung kelancaran persuasi ini, di mana komunikan tidak tahu sama sekali tentang pemanasan global sehingga dapat di pengaruhi dengan konsep  yang kita berikan. Namun faktor penghambatnya adalah masalah kebiasaan buruk (buang sampah di sekitar pemukiman) yang perlu ditinggalkan, namun susah bagi mereka karena sudah menjadi kebiasaan. Sehingga mereka lebih banyak mengeluh.
2.    Komunikasi pada Komunitas Berbeda Aliran
a)    Temuan Data
Komunikasi yang terjalin antara NU (penulis) dengan teman dari organisasi masyarakat Muhammadiyah, Tarbiyah, dan Hisbut Tahrir.

b)   Analisis Data
Pada saat masa transisi dari SMA ke PT, saya merasakan perbedaan yang sangat signifikan. Semasa enam tahun di Pesantren saya bergaul dan tumbuh di komunitas NU yang sangat kental, semua kegiatan dijalankan bersama atas dasar worldview yang sama sehingga tidak ada kontak yang bertolak belakang. Ketika saya pindah melanjutkan ke PT, saya tinggal di sebuah yayasan. Di tempat ini saya menemukan teman-teman yang mayoritas berkerudung besar, berbeda dengan saya yang berkerudung standar. Notabene mereka organisasinya Hisbut Tahrir, Partai Keadilan Sejahtera, Muhammadiyah, dan Tarbiyah.
Sebelumnya saya memandang mereka dengan Islam ekstrim, mengingat komunitas saya dahulu adalah NU.  Namun stereotip itu kemudian luntur seiring saya bergaul dengan mereka. Sebagian dari mereka justru menghormati, meskipun tetap memang terdapat beberapa yang fanatik. Salah satu contoh ketika saya sedang bersantai di kamar, secara reflek saya membaca salawat sambil bernyanyi (salawat yang dilafadzkan dengan nada tertentu ). Kemudian teman di kamar saya langsung berkomentar “kamu orang NU ya? Saya paling benci dengan orang NU. Ziarah lah, salawatan lah. Tahlilan lah, Itu tidak boleh. ” Sontak saya terkejut, dan berusaha membela diri dengan mencoba memberikan argumen, namun kemudian ia justru pergi meninggalkan kamar.
Sedangkan yang berbeda aliran namun tetap menghormati satu sama lain menurutnya setelah penulis wawancara langsung alasannya adalah, “perbedaan aliran dan pandangan itu sah-sah saja, namun yang paling penting bagi umat Islam menjaga ukhwah islamiyah. Bukan karena perbedaan pandangan justru memecahkan kita. Dan yang paling penting juga kita umat Islam yang sama-sama percaya keberadaan Allah, dan utusanNya. Tidak perlu ada sinis-sinisan”
Jika dilihat interaksi antara saya dan kedua orang  ini, adalah  pandangan yang fanatik terhadap alirannya di mana ia memandang pandanganorang lain sebagai suatu kesalahan. Sedangankan di sisi lain ia memandang suatu perbedaan dan mencari kesamaan dalam perbedaan aliran. Yaitu kesamaan kepercayaan akan Allah dan Rasul.
c)        Faktor Pendukung dan Penghambat
Rasa persamaan meskipun dalam perbedaan (faktor pendukung). Fanatisme yang terlalu ektrim terhadap pandangan yang lain (faktor penghambat).

3.        Potensial Hambatan KAB
Dalam berkomunikasi menyangkut dua belah pihak yaitu komunikator dan komunikan. Masing-masing mempunyai potensi hambatan. Potensi hambatan itu sendiri antara lain:
1.        Keanekaragaman dari Tujuan Komunikasi, Masalah komunikasi sering terjadi karena keberagaman tujuan, alasan, dan motivasi.
2.        Etnosentrisme
Menurut The Random House Dictionary etnosentrisme adalah kepercayaan pada superioritas kelompok atau budayanya sendiri, etnosentrisme cenderung menganggap rendah orang-orang yang dianggap asing dan memandang atau mengukur budayanya dan membandingkan dengan budaya asing. Karena etnosentrisme biasanya dipelajari pada tingkat ketidaksadaran dan diwujudkan pada tingkat kesadaran, sehingga sulit untuk melacak asal usulnya. Bahayanya penilian itu sering kali salah, semena-mena dan tidak berdasar sama sekali.
3.        Tidak Ada Kepercayaan
Karena sifatnya yang khusus komunikasi antar budaya merupakan peristiwa pertukaran informasi yang peka terhadap kemungkinan terdapatnya ketidakpercayaan antara pihak-pihak yang terlibat. Orang umumnya segan untuk mengambil resiko berhubungan dengan orang asing. 
4.        Penarikan Diri
Komunikasi tidak akan terjadi apabila salah satunya menarik diri karena sifatnya yang khusus komunikasi antarbudaya merupakan peristiwa pertukaran informasi yang peka terhadap kemungkinan terdapatnya ketidakpercayaan antara pihak-pihak yang terlibat. Orang umumnya segan untuk mengambil resiko berhubungan dengan orang asing.   
5.        Tidak Ada Empati
Beberapa hal yang menghambat empati antara lain:
Fokus terhadap diri sendiri secara terus menerus, adalah sulit untuk memusatkan perhatian pada orang lain kalau kita berpikir tentang diri kita secara terus menerus dan bagaimana orang menyukai kita;
Ø  Pandangan-pandangan stereotip mengenai ras dan kebudayaan;
Ø  Kurangnya pengetahuan terhadap kelompok, kelas atau orang tertentu;
Ø  Tingkah laku yang menjauhkan orang untuk mengungkapakan informasi;
Ø  Tindakan atau ucapan yang seoalah-olah menilai orang lain;
Ø  Sikap tidak tertarik;
Ø  Kekuasaan, kekuasaan digunakan untuk mengontrol atau menentukan tindakan orang lain.
a)        Temuan dan Analisis Data:
Dalam hal ini penulis akan menilik peristiwa mengenai teman sekamar yang baru saja lulus sekolah menengah. Singkatnya, ia berasal dari Magelang dan kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta. Saat pertama kali ia masuk kuliah ia merasa asing karena berbaur dengan orang baru (Betawi) rata-rata orang berlogat Betawi dan cablak. Dalam hal belajar secara kolektif ia lebih memilih pada teman-teman yang berasal dari Jawa dan tidak cabak menurutnya (etnosentrisme). Karena ia tidak mau mengambil resiko baik mengenai pandangan, takut dikatakan tidak gaul karena tidak kejakartaan.
Hal ini karena pandangan stereotip mengenai ras dan kebudayaan yang belum ia ketahui. Dan informasi yang ia ketahui hanya orang-orang yang berbicara terang-terangan (baca: Cablak). Sekat ini menimbulkan sikap tidak tertarik dan segan karena bukan berasal dari satu ras atau kebudayaan yang sama dan akhirnya berefek pada penarikan diri dari komunitas tersebut.
b)       Faktor Penghambat
Ø  Ketidaktahuan mengenai informasi kelompok;
Ø  Stereotip yang belum tentu kebenarannya;
Ø  Perasaan segan dan cemas.

4.        Kontak Antar Agama
a)        Temuan Data
Berinteraksi dengan guru baru berasal dari Amerika beragama kristen.

b)       Analisis Data
Saat pertama kali melakukan komunikasi dengan orang asing, muncul kecemasan dalam diri bahwa ia bukan kelompok kita dan kita harus berhati-hati. Kita akan melakukan prediksi-prediksi perilaku terhadap mereka. Dalam tataran komunikasi antarbudaya seperti yang dinyatakan oleh Miller dan Steinberg kita menggunkan data kultural orang asing tersebut dan digunakan untuk memprediksi atau memperkirakan perilakunya.
Ada dua faktor yang mempengaruhi keakuratan prediksi kita ketika menggunakan data kultural yaitu (1) Banyaknya pengalaman pada level kultural yang kita punya. Yaitu tergantung pengalaman kita tentang budaya mereka.(2) Kesalahan yang dibuat karena kita tidak menyadari pengalaman budaya dari stranger tersebut atau karena kita memprediksi dengan pengalaman dasar budaya yang berbeda dari seseorang yang kita gunakan. Disamping itu data prediksi sociological hal ini berdasarkan pada anggota anggota dari stranger atau aspirasi-aspirasi dalam kelompok sosial tersebut.
Prediksi ini berdasarkan pada orang-orang yang spesifik yang berkomunikasi dengan kita. Ketika menggunakan data ini kita concern pada bagaimana orang-orang ini berbeda dan sama dari anggota lain dari budaya dan kelompok yang mereka miliki.Menurut Stephan dan Stephan dalam Gudikunst kita merasa takut pada konsekuensi negatif ketika berinteraksi dengan strangers yaitu (1) Kita merasa takut konsekuensi negatif untuk konsep self kita. Kita juga takut kehilangan self esteem yang akan mengancam identitas sosial kita dan kita merasa bersalah kalau kita berkelakuan yang menyakiti strangers.(2) Kita merasa takut konsekuensi perilaku negatif kita. Kita merasa mereka akan mengeksploitasi kita, mengambil keuntungan, mencoba mendominasi kita, dan juga khawatir terjadinya konflik verbal.(3) Kita takut mengevaluasi negatif para strangers.(4) Kita takut dievaluasi negatif oleh anggota ingroup kita
Kecemasan-kecemasan yang pertama bahwa pandangan saya mengenainya dengan datang ke Pesantren untuk mengajar secara sukarela awalnya membuat saya merasa waspada dalam konteks saya dan lingkungan saya adalah Islam, dan dia western yang memiliki pandangan “lain” mengenai agama Islam. Kali pertama komunikasi saya alami ketika berkomunkasi dengan orang baru khususnya guru baru di sekolah saya yang berasal dari Amerika Serikat bernama Lee Becker. Kecemasan yang terjadi adalah masalah bahasa. Yang kedua adalah stereotip dari pihak Barat mengenai Islam, saya jadi merasa terbebani dengan stereotip itu dan bagaimana caranya menciptakan kesan yang baik di hadapannya. Kecemasan itu terbentuk menjadi kata-kata selalu mengatakan “sorry” pada saat berbicara. Sampai saya sadar ketika Mr.lee Becker menegur saya kenapa saya selalu bilang “sorry”.
c)        Faktor Penghambat
Pertemuan dengan orang asing membawa kejutan (ketidakpastian) dan tekanan (kecemasan). Beberapa kejutan dapat mengguncang konsep diri kita dan identitas budaya kita dan membawa kecemasan karena alasan pandangan mereka terhadap Islam Bahwa Islam teroris atau stereotip yang terbangun sebelumnya.

5.        Dialog Agama
Pluralitas agama di era globalisasi yang menjadi karakteristik dari bangsa Indonesia yang heterogen. Sehingga tak bisa dipungkiri, pluralitas agama ini memiliki potensi dan peran sangat besar bagi kemajuan bangsa. Islam mengajarkan dalam al-Qur’ân surat al-Hujurât: 10 : “Sesungguhnya orang-orang beriman itu tidak lain adalah  bersaudara. Maka, damaikanlah antara dua saudaramu, dan bertakwalah pada Allah supaya kamu dirahmati”. 
Sebenarnya perspektif dimensi agama, ajaran agama mengandung klaim kebenaran yang bersifat universal. Hal ini memungkinkan terjadi ambiguitas dalam interpretasi menurut tingkat pemahaman, penghayatan, dan moralitasspiritualitas penganutnya. Fenomena ini tampak dalam penggunaan konsepkonsep atau simbol-simbol agama untuk  orientasi tertentu ketika melibatkan emosi keagamaan penganutnya.
Untuk itu, menghindari konflik atau mewujudkan kerukunan umat beragama merupakan nilai universal. Dengan nilai ini, semua manusia melalui  agamanya diharapkan dapat hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, saling toleransi, dan bekerjasama dalam menangani persoalan kemanusiaan. Di antara usaha untuk penghindari konflik atau mewujudkan kerukunan umat beragama itu, tentunya ada upaya untuk saling mengenal di antara agama-agama melalui dialog antar umat beragama.                                               
a)        Temuan Data
Penulis mengikuti sekolah antar agama dan bincang-bincang lintas agama yang diselenggarakan oleh ICRP.
b)       Analisis Data
Sekolah ini (ICRP) mengadakan pertemuan rutin dwi mingguan stakeholder ICRP yang mayoritas adalah kalangan muda lintas agama. Forum diskusi ini diarahkan untuk menciptakan kader-kader peduli pluralisme dan memiliki pengetahuan dan sensitivitas terhadap perbedaan-perbedaan yang ada dalam agama-agama untuk kemudianmengelolanya menjadi kekayaan yang berorientasi pada integrasi bangsa dan bangunan pluralisme yang kokoh.
6.        Strategi untuk Peningkatan KAB
Interaksi antar budaya yang berhasil adalah didasarkan pada komunikasi yang efektif. Berikut ini merupakan teknik dan kiat yang dapat membantu mengembangkan sikap saat berkomunikasi antar budaya.
1.        Mengenal Diri Sendiri
2.        Menggunakan kode yang sama
3.        Menunda penilaian, jangan terburu-buru menilai orang lain
4.        Memperhitungkan lingkungan fisik manusia
5.        Meningkatkan ketrampilan berkomunikasi
6.        Mengembangkan empati
7.        Mencari kebersamaan diantara kebudayaan.

a)        Temuan dan Analisis Data 
Penulis berkomunikasi dengan teman yang berasal dari Somalia dan tinggal di asrama yang sama. Karena sebelumnya sudah pernah berkomunikasi dengan orang asing, saya merasa dapat beradaptasi lebih baik tanpa kecemasan yang berlebihan (mengenal diri sendiri melalui pengalaman). Awal pertemuan dengan mahasiswi asal Somalia ini saya tanggapi dengan santai, meskipun awalnya saya merasa sedikit aneh karena ia dan teman-temannya berkulit hitam pekat. Namun untuk penilaian sikap, saya mengikuti dari pola komunikasi yang terjadi di antara kami. Dalam berkomunikasi kami menggunakan bahasa Inggris, di mana bahasa ini sudah menjadi bahasa internasional dan menjadi kode yang sama.
Jika mengobrol santai, terkadang kami menemukan hal yang sama dalam hal bahasa penyebutan seperti termos. Di Indonesia menyebutkan tempat air panas adalah termos, di Somalia juga menyebutnya dengan termos.  Terdapat beberapa bahasa nonverbal yang yang berbeda, yaitu salah satunya cara bersalaman antara Indonesia dan Somalia. Orang somalia cara bersalaman pertemuan antara telapak tangan sampai berbunyi atau hampir sama seperi “tos” namun tidak sekuat tos. 

Minggu, 24 April 2011

Berkenalan dengan Kritikus Media



  1. 1.    Jean Baudrillard dan Posmodernisme
Dewasa ini berkembang suatu pemikiran yang dampaknya sangat kuat dan atmosfer pemikirannya paling mutakhir, yaitu posmodernisme. Berbicara mengenai posmodernisme tentu tidak terlepas dari tokoh-tokoh yang membidaninya. Salah satunya adalah Jean Baudrillard. Jika dilihat dengan kacamata bahasa, banyak orang yang mengartikan posmodern sebagai pasca modern, “pos” yang berarti sesudah atau pasca. Pemahaman ini justru musyrik, dalam dunia posmo justru anti terhadap kemajuan, emansipasi, ide-ide, dan lain sebagainya. Konsep ini ditelanjangi oleh para pemikir posmo, seperti Foucault, dan Baudrillard.
Posmodern tidak dapat dikonsepkan dalam satu  definisi yang jelas, para penganut “teologi” ini mengharamkan kebenaran partikular.
Pada dasarnya posmodern adalah bentuk ketidaksetujuan dari pergeseran wacana dari berbagai bidang yang terlampau mengkultuskan rasionalitas.
Berangkat dari situlah, Jean Baudrillard dengan pemikirannya mengenai simulasi. Peneliti asal Perancis ini yakin bahwa tanda-tanda telah terpisah dari kebenarannya dan media yang berperan menggerakkan proses ini sehingga tidak ada pebedaan antara yang nyata dan tidak.
Penelitian Baudrillard yang melihat pada pengaturan simbol dalam sebuah pesan didasarkan pada pemikiran semiotik. Sign awalnya merepresentasikan dari sebuah objek atau situasi, Baudrillard menyebutnya tahapan ini sebagai susunan simbolis (symbolic order) umumnya terjadi pada masyarakat feodal, tahapan kedua yaitu peniruan (counterfeits) yang umumnya dalam masa Renaisssance hingga Revolusi Industri, dan selanjutnya tahapan produksi (production) pada saat Revolusi Industri (Littlejohn, 2009).
Simulacra adalah konsep yang menyatakan tidak ada hijab antara nyata dan semu, dunia ini menjadi imajiner. Baudrillard mengambarkan simulasi pada dunia fantasi, dimana benda-benda yang tidak kita ketahui sebelumnya digambarkan sedemikian rupa dan menciptakan gambaran pada pandangan kehidupan kita. Oh, bajak laut itu dengan mata ditutup satu dan tangan besi berbentuk gancu. Padahal itu hanya kerjaan media. Simulasi itu tidak mewakili tetapi meciptakan realitas kita.
Dengan cerita tersebut, media dikenal dengan hyper reality. Hiperrealitas lewat semiotika media digunakan untuk menjelaskan kenyataan yang melampai batas. Tujuannya tentu economic interest, power interest.
Baudrillard mengklaim habis-habisan mengenai teori-toeri sebelumnya, yang menyatakan ekonomi adalah faktor sentral dalam kehidupan sosial. Tidak baginya! Dunia ekonomi dalam arti produksi dan reproduksi tidak berhubungan sama sekali dengan benda-benda (barang yang diproduksi) melainkan berkaitan dengan makna. Contohkan saja rokok, para produsen rokok tidak lagi memproduksi rokok dalam arti sebenarnya, tetapi mengandung arti sebagai kekuatan, ke-macho-an seorang pria. Pandangan ini diciptakan lewat iklan-iklan rokok yang tidak  lagi mengandung benda apa yang dibawa melainkan sesuatu yang lain.
Budaya komoditas media merupakan salah satu aspek dari simulasi. Kita dibentuk oleh lingkungan yang menentukan selera, pilihan, bahkan kebutuhan. Memiliki menjadi sangat penting bagi kita dari pada tingkat seberapa besar kita mengonsumsinya. Kita mengira bahwa kebutuhan kita terpenuhi, tetapi kebutuhan kita sebenarnya adalah kebutuhan yang disamakan dengan penggunaan tanda-tanda dalam media (Littlejohn, 2008). Ketika kita berpikir membeli jam tangan dengan merek terkenal, rasa yang timbul dalam diri adalah bahwa kita mampu membelinya dan mengikuti mode bukan sebagai alat pengingat waktu. Padahal di meja kamar kita berderet jam tangan yang menunggu dilingkarkan pada pergelangan tangan.

Pesan-pesan media yang menggunakan simbol-simbol memang dirancang untuk memengaruhi individu atau masyarakat. Itulah karya Baudrillard yang memiliki sebuah ujung yang lancip alias kritis.

2.    Michel Foucault dan Post-Strukturalisme
Post-strukturalis adalah pergerakan yang bereaksi pada semiotik tentang bahasa (Littlejohn, 2008). Dalam bidang ini pakar yang paling berpengaruh adalah Michel Foucault. Foucault menolak dirinya dimasukkan dalam jajaran pemikir strukturalis atau post-strukturalis. Para ahli post-strukturalis menolak kalau bahasa itu alat bantu komunikasi dengan bentuk alaminya (Mansoer Fakih, 2008) dengan kata lain bahasa itu tidak lagi netral. Paham ini sebenarnya dapat dikatakan posmodernisme, mengapa? Karena Foucault sangat tidak menerima ortodoksi komunisme.
Foucault mengatakan bahwa setiap zaman memiliki konsep pengetahuan yang berbeda. Nah, konsep itu dinamakan  épistémè. Ada dua bentuk épistémè, yaitu épistémè sebagai pengetahuan atau wacana dan épistémè dengan konsepnya tentang wacana dan kekuasaan. Sebagai sebuah struktur, épistémè dapat diartikan dengan toalitas, hal ini disepakati oleh pemikir strukturalis. Foucault menjelaskan épistémè sebagai sebuah totalitas yang menyatukan (Suma Riela, 2008), dalam arti mengontrol cara kita memandang dan memahami realitas tanpa kita sadari.
Épistémè berbeda pada tiap zaman. Jika kita sadar pada épistémè yang memengaruhi kita, berarti kita telah berada dalam épistémè yang berbeda, karena menurut Foucault épistémè tidak dapat dilihat atau disadari ketika kita ada di dalamnya (Angkersmit, 1987). Namun ternyata épistémè itu dapat diidentifikasi melalui mengunggkap “yang tabu, yang gila, yang tidak benar”. Foucault mendalami masalah kegilaan, seksualitas, dan kejahatan.
 Selanjutnya épistémè sebagai wacana dan kekuasaan. Sang Foucault memperkenalkan hubungan antara wacana (discourse), pengetahuan (knowledge), dan kekuasaan (power). Di dalam épistémè ada hubungan yang erat antara bahasa dan realitas. Bahasa tidak transparan, bahasa bukanlah cermin realitas, tetapi bahasa ditentukan oleh épistémè.
Realitas yang disampaikan bahasa adalah realitas yang dibentuk oleh épistémè. Bahasa di sini berarti wacana yang merupakan pengetahuan terstruktur. Menurut Foucault, berbicara tentang wacana, berarti berbicara tentang aturan-aturan, praktik-praktik yang menghasilkan pernyataan-pernyataan yang bermakna pada satu rentang historis tertentu (Adian, 2002).
Wacana menurut Foucault berkaitan erat dengan konsep kekuasaan. Terdapat relasi antara pengetahuan dan kekuasaan, keduanya saling memengaruhi. Agar pengetahuan dan kekuasaan bermain, dibutuhkan suatu wacana. Contoh yang biasa digunakan yaitu wacana Galileo yang menyatakan bumi itu bulat, sampai ia dihukum mati. Wacananya bertolak belakang dengan wacana pada saat itu yang meyakini bahwa bumi itu datar.
Analisis wacana Foucault memahami kekuasaan yang bermain dibalik pengetahuan. Analisis terhadap kekuasaan yang mendominasi kaum marjinal, itu sebabnya Foucault juga disebut pemikir marjinal.
Dari ulasan diatas, dapat kita ketahui ternyata pada setiap zaman itu diskursus itu bukan sekedar wacana yang terjadi secara alami, melainkan gagasan yang telah dibumbui sistem kekuasaan dan dominasi. Dalam setiap masyarakat pembuatan atau produksi diskursus itu dikontrol, dipoles, dan disebarkan.
Bagimana diskursus dapat dibentuk? Mansoer Fakih dalam buku Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, menyontohkan diskursus dalam bidang pembangunan. Pertama mereka (Dunia Maju) menciptakan ketidaknormalan (abnormalities) seperti “kekurangan gizi”, yang harus dipecahkan. Spesifikasi masalah ini membutuhkan observasi detail mengenai tempat, rumah tangga, juga mengenai “Dunia Ketiga”.  Mereka menawarkan formula yang bisa “menyembuhkan” dari masalah tersebut.
 Selanjutnya formula tersebut diekonomikan, dan dilanjutkan oleh pemerintah setempat dalam institusi badan perencana pembangunan nasional. Strategi ini mampu melakukan pengelolaan dan kontrol terhadap penduduk dengan detail.
                        Demikian dari uraian di atas, dapat kita petik pelajaran bahwa “teologi” ini (anggap saja sebagai teologi) dapat mencerahkan dan menginspirasi secara radikal dan kritis terhadap setan-setan yang mendominasi.


3.    Marshal McLuhan dan Determinisme
Marshall McLuhan, terkenal dengan ungkapan “The Medium Is The Massage” sampai-sampai ia dianggap gila dan radikal. Maksud dari ungkapan tersebut bahwa media itu membawa pesan, ya pesannya itu merupakan media itu sendiri. Marshall mempunyai paham yang sama dengan Veblen yaitu Determinisme Teknologi. Untuk mengetahui determinisme kita akan menggunakan ungkapan-ungkapan McLuhan. Merujuk melalui pernyataan McLuhan “The Technology as The agent of social change”, artinya teknologi itu adalah sebagai agen perubahan sosial.
Mengapa demikian? Akan saya contohkan peristiwa kecil yang saya amati dan terjadi disekitar saya, saya mempunyai teman satu asrama namun berbeda kamar, dulu ia sering mengunjungi kamar saya dan share mengenai segala sesuatu. Pasca idul fitri kemarin ia pulang ke asrama dengan membawa laptop baru, selanjutnya yang terjadi ia tidak lagi mengunjungi kamar saya atau hanya sekedar sharing. Dan apabila bertemu hanya bertukar “hai” dan berbicara sekedar. Waktunya banyak tersita di kamar dan berkutat dengan laptopnya. Dari contoh tersebut pada hakikatnya media mempengaruhi pola pikir, merasakan, dan bertingkah laku manusia itu sendiri.
Teknologi itu sendiri yang merupakan alat perpanjangan inderawi manusia (The Exstension of Man), McLuhan memperkenalkan ungkapan itu dalam bukunya Understanding of Media: The Extension of Man. McLuhan meramalkan era perkembangan teknologi akan membawa peralihan fungsi teknologi sebagai perpanjangan dari sistem inderawi dan sistem syaraf manusia. Jika dilogikakan seperti televisi ekstensi dari mata, mobil ekstensi dari kaki.
Selanjutnya adalah “global village”, maksudnya ini adalah sebuah penggambaran dunia yang begitu luas ini, menjadi sempit dimana segala sesuatu dapat diakses dengan gampang dan cepat. Global Village adalah analogi dari buana ini menjadi desa. McLuhan memperkenalkan ini sekitar pada tahun 60-an, pada saat itu pemikirannya dianggap aneh, makanya saya sebutkan di atas bahwa pemikirannya dianggap gila dan radikal. Jika dalam pandangan Foucault, McLuhan mempunyai épistémè yang berbeda pada saat itu.
Ramalan McLuhan dapat kita lihat melalui fenomena-fenomea jejaring sosial seperti facebook, twitter, yahoo messengger, dan situs-situs jejaring sosial lainnya. Dengan situs tersebut manusia dari berbagai belahan dunia dapat berkomunikasi bertukar pesan, dan dapat terjadi enkulturasi. Hal ini merupakan ramalan McLuhan yang terbukti terjadi, dimana teknologi semakin menggurita pada kehidupan manusia. Pada akhirnya global village bukan sekedar konsepsi belaka, namun kian menampakkan kebenaran.  
Bertolak pada uraian paragraf di atas bahwa tidak ada batasan antara waktu dan tempat, ditandai juga orang-orang dapat mengakses berita atau peristiwa terjadi diberbagai belahan dunia manapun secara cepat.  
Menurut McLuhan, perpanjangan ini sesuai dengan tahapan-tahapan sejarah (McLuhan, 1964). Digambarkan teknologi percetakan menandai masa-masa modern, kemudian teknologi elektronik menandai pada era posmodern. Namun hingar bingar perkembangan teknologi ini telah mengurangi esensi dari pesan yang disampaikan, melainkan malah sebagai ganti pesan simbolik. Maka dari itu kita menoleh kembali statemen McLuhan  Media The Extention of Man, yang namanya media itu hanya sekedar menjadi perpanjangan badan manusia tanpa pesan dan makna.
Pemikiran McLuhan ini juga dipakai oleh Jean Baudrillard mengenai global village dan extention of man, pandangan Badrillard bahwa media bukan hanya perpanjangan dari badan manusia, tapi lebih dahsyat lagi. Media itu bisa menciptakan fantasi-fantasi, ilusi-ilusi menjadi sebuah realitas. Yang sudah dibahas sebelumnya dibagian awal mengenai hiperalitasnya.
Terakhir,
Ruang dan waktu sudah ditaklukan teknologi