Laman

Selasa, 28 Juni 2011

Sikap Pesimistik Terhadap Dunia Pertama dalam Pandangan Imprealisme Struktural



1.1  Latar Belakang Masalah
Perkembangan komunikasi internasional sepanjang abad ke-20 dipengaruhi oleh kondisi sejarah. Pertama, perang dingin hegemoni ekonomi dan politik antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kedua, bangkitnya negara-negara berkembang yang mengindikasikan lahirnya gerakan solidaritas kawasan. Ketiga, terbentuknya sistem ekonomi dunia kearah globalisasi. Keempat, adalah perkembangan teknologi komunikasi yang meskipun mempercepat aliran arus informasi, namun juga dikhawatirkan memperlebar jurang ekonomi antara negara maju dan berkambang.[1] Hal yang keempat tersebutlah yang menjadi bahasan khusus mengenai ketimpangan-ketimpangan yang terjadi antara hubungan negara maju dan berkembang. 
Dewasa ini jika kita perhatikan banyak sekali produk industri baik teknologi, media massa, perfilman, musik, fashion, berita internasional dikuasai oleh negara-negara yang disebut negara maju. Hasil dari berbagai produk ini diterima oleh masyarakat dan negara ketiga secara umum sebagai upaya pembentukkan kemajuan negara yang dilebeli modern.  Modern sendiri menurut ilmuwan sosial yang concern terhadap modernisasi menggunakan standard masyarakat industri Barat yang telah maju sebagai acuan  tingkat modernitas terhadap suatu negara yang berkembang.[2]
Menurut Eisenstadt “Dalam  sejarahnya, modernisaasi merupakan proses perubahan menuju tipe sistem sosial, ekonomi dan politik yang telah berkembang di Eropa Barat dan Amerika Utara dari abad ke 19-20 meluas ke negara-negara Amerika Selatan, Asia serta Afrika”.[3] Seperti inilah kiranya perspektif evolusioner yang menjelaskan tahapan-tahapan transisi “kemodernitasan”. Secara ringkas modern itu mengikuti dan turut serta dunia modern untuk meningkatkan kesatuan meskipun secara kacau. Pandangan ini melahirkan gagasan modernisasi.
Produk-produk yang dihasilkan dunia pertama baik itu ekonomi, politik atau budaya, masuk dan menyentuh segi dan pola dunia ketiga. Masuknya hal tersebut dipandang  “sinis” oleh sebagian kaum  terhadap dunia pertama.  Sebenarnya pada proses keterlibatan mereka ada ketidaksadarkan dunia ketiga, bahwa sikap yang dilakukan negara-negara maju merupakan proyek terselubung dalam menjalankan sayapnya untuk mendominasi khususnya arus informasi di dunia. Fenomena ketidakmerataan informasi, media lah yang melaksanakan perannya secara tidak objektif, dan minimnya informasi yang dikeluarkan oleh media massa membuat proses komunikasi, pemahaman dan pembentukan opini masyarakat menjadi tidak optimal yang menunjukkan implikasi dari adanya ketimpangan arus dan isi informasi.
Gambaran tersebut merupakan rezim globalisme yang tidak selamanya menguntungkan, globalisme menempatkan posisi komunikasi internasional sebagai hal terpenting sebagai cara atau strategi untuk memengaruhi pihak-pihak lain termasuk dunia ketiga. Pandangan pesimistik  ini muncul setelah banyaknya gagasan tentang modernisasi sekaligus sebagai jawaban dari pandangan optimistik. Kelahiran pandangan ini merupakan suatu bentuk warning bagi dunia ketiga, bahwa hubungan negara-negara kapitalis dan menerapkan konsep atau model yang sejalan dengan negara maju adalah bentuk bahaya besar yang tidak terlihat secara kasap mata. Cengkraman itu memang tidak dilakukan lewat perang militer, ketidaksadaran itu karena yang mereka (dunia maju) kuasai adalah bagian sel-sel dari suatu negara dari dalam. Sehingga hubungan dengan  dunia pertama justru hasilnya akan terjadi ketimpangan-ketimpangan yang ujungnya menguntungkan negara maju.
1.2 Rumusan Masalah
Setelah mengetahui latar belakang di atas, menimbulkan pertanyaan utama yaitu: Bagaimana gagasan memandang pesimistik mengenai dominasi di negara berkembang?Adapun pertanyaan turunannya: Aspek apakah yang didominasi oleh dunia maju terhadap dunia berkembang? Apakah efek yang terjadi akibat kehadiran negara maju dinegara berkembang? Mengapa masih banyak dunia berkembang bergantung pada negara-negara maju?
1.3  Statemen
Pandangan pesimistik ini bukan berarti tidak mau maju atau hanya mampu mengkritik keunggulan orang lain. Dalam pandangannya, gagasan ini justru berupaya mengembangan potensi-potensi negara yang dimiliki, dengan upaya mengurangi ketergantungan kepada orang lain. Pandangan ini bukanlah kecurigaan tanpa alasan, secara empiris kita dapat melihat bagaimana negara maju yang  menggurita di sel-sel negara-negara berkembang. Sel-sel atau aspek negara ini dipandang serius oleh gagasan-gagasan pesimistik.  Seperti perekonominan Indonesia yang didominasi oleh Amerika Serikat. Jadi, praktik dominasi negara maju terhadap negara berkembang dapat dibuktikan.
Konsep imprealisme struktural oleh Johan Galtung merupakan gagasan yang relevan dengan pandangan pesimistik. Imprealisme diartikan sebuah corak hubungan di mana sebuah mayarakat mendominasi masyarakat lainnya.[4] Gagasan ini merupakan jawaban dari pandangan optimistik terhadap negara maju, dapat dikatakan pula bahwa ini merupakan feedback dari sebuah bentuk model komunikasi Lasswel. Imperialisme juga dapat dikatakan keterlibatan negara maju terhadap negara berkembang dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, militer, pendidikan dan politik. ‘Permainan’ ini bukan hanya sekedar saling menguntungakan, namun ada aspek-aspek lain yang dijadikan keuntungan yang berat sebelah dan dinikmati oleh negara maju. Yang perlu digarisbawahi adalah keberadaan mereka (baca: dunia maju) terhadap urusan-urusan kepentingan nasional negaranya. Pasti terdapat hal lain dari tujuan yang mereka tawarkan sebagai upaya pembangunan nasional untuk menjadi masyarakat yang modern.
Dengan menggunakan istilah imprealisme, yaitu konsep yang dipakai untuk menggambarkan proses komunikasi internasional dalam membentuk, mempertahankan dan memperluas sayap dominasi dan menciptakan ketergantungan secara menyeluruh atau global.
1.3  Kajian Teori
Teori Imperialisme Struktural
Teori imperialisme struktural merupakan teori yang berpandangan mengecam dominasi negara maju terhadap negara berkembang dan Johann Galtung adalah salah satu tokoh terkemukanya. Galtung mendefinisikan imperialisme secara sederhana yaitu corak hubungan dimana sebuah masyarakat mendominasi masyarakat lainnya, ini bisa berlangsung secara parsial ( sebagian-sebagian) atau secara struktural ( keseluruhan ).[1]
 Bersama dengan konsep teori dependensi (Cardoso) dan teori imperialisme kultural (Herbert Schiller), teori ini menjadi bagian dari teori dependensi yang lebih menitik beratkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara Dunia Ketiga, karenanya dianggap mewakili suara negara-negara pinggiran untuk menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari negara maju. Teori dependensi muncul sebagai kritik terhadap arus pemikiran utama persoalan pembangunan yang sebelumnya didominasi oleh teori modernisasi.[2]
Kembali pada imprealisme struktural, kata kunci teori ini sebagai berikut: Imperialisme adalah sebuah sistem yang membagi-bagi kolektivitas-kolektivitas dan menghubungkan beberapa bagian satu sama lain dalam hubungan kesadaran kepentingan dan bagian lain dengan ketidakselarasan kepentingan atau konflik kepentingaan”.[3]
Konsep Pusat-Pinggiran
Jika kita lihat kata kunci di atas berkaitan dengan sistem, kesadaran kepentingan, dan konflik kepentingan. Berbicara mengenai sebuah sistem dengan pendekatan struktural, maka hasilnya sistem adalah konsep mengenai bagian yang memiliki peranan masing-masing dan terkoneksi dan saling memengaruhi. Fungsi di sini tidak bersifat mutlak ketergantungan satu sama lain antara sistem tersebut. Jika salah satu sistem rusak maka sistem yang lain tetap berjalan sebagaimana fungsinya. Sistem-sistem ini didikotomikan menjadi pinggiran dan pusat. Kemudian menjadi konsep yang diperkenalkan Galtung sebagai konsep “Pusat”. Konsep ini masih dapat dibagi menjadi konsep pusat-pusat, pusat-pinggiran, pinggiran-pusat, dan pinggiran-pinggiran. Terminologi tersebut dapat dianalogikan menjadi konsep bangsa-bangsa di dunia. Pusat atau Center yaitu ditunjukkan bagi negara-negara maju atau kaum tertinggi yang berada di jajaran tertinggi di masyarakat yang biasanya disebut kamu elit. Sementara Pinggiran atau Periphery adalah negara-negara industri yang terbelakang atau kaum yang berada pada jajaran terendah sistem masyarakat.
Konsep yang berarti bangsa-bangsa di dunia kemudian berinteraksi dalam suatu hubungan. Berbicara mengenai hubungan maka tidak lepas dari kepentingan-kepentingan. Kepentingan inilah yang merupakan landasan interaksi. Interaksi dalam lingkup kepentingan untuk menguasai tujuan, di sini terlihat bagaimana pihak tertentu menguasai pihak lain yang dapat memenangkan kepentingannya.
Mekanisme Imprealisme
Hubungan dalam interaksi antar pusat-pinggiran menghasilkan sebuah mekanisme. Mekanisme imprealisme meliputi:
·         Asas hubungan interaksi vertikal. Pada pola ini ada sesuatu yang “ditukarkan” misalnya sebuah barang atau jasa. Interaksi yang terjadi berdasar asas saling melengkapi. Misalnya saja perjanjian dagang pada pertukaran beras dan pesawat terbang. Keduanya melakukan ‘pertukaran’ dikarenakan adanya keterbatasan barang. Namun sebenarnya, kedua barang tersebut memiliki kandungan nilai yang berbeda atau tidak sederajat.
·         Asas hubungan interaksi feodal. Pola ini merupakan kebalikan dari asas hubungan di atas. Dalam asas ini mempertahankan dan memperkuat ketimpangan yang ada. Terdapat empat tuntunan yang mendefinisikan asas hubungan ini, antara lain: interaksi yang terjadi antara pusat dan pinggiran berlangsung vertikal, tidak terdapat interaksi antara pinggiran dan pinggiran, tidak terdapat interaksi multilateral yang melibatkan semua kegiatannya, dan interaksi terhadap dunia luar ‘dimonopoli’ oleh pihak pusat. Hubungan yang bersifat feodal ini merupakan usaha pusat agar pinggiran memiliki ketergantungan yang absolut terhadapnya. Jika ketergantungan tersebut belum maksimal, maka pusat menetapkan politik pecah belah sehingga pusat memiliki wewenang penuh atas pinggiran tanpa ada usaha perlawanan.[4]
1.4  Metodologi
Deutsch menyebutkan bahwa model itu mempunyai empat fungsi: mengorganisasikan, heuristik, prediktif dan pengukuran.[5] Jika melihat dari teori di atas, bentuk model yang disesuaikan adalah  model komunikasi Harold D.Laswell.
Dalam model ini untuk mempermudah proses komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan berikut: Who, Says What, In Wich Channel, To Whom, With What Effect (siapa mengatakan apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa). Menurut Lasswell itu merupakan unsur-unsur proses komunikasi, yaitu: Communicator (Komunikator), Message (Pesan), Media (Media), Receiver (Komunikan / Penerima), Effect (Efek).
Laswell (1948) menggambarkan proses komunikasi dan fungsi-fungsi yang ditanggung dalam masyarakat. Fungsi komunikasi itu sendiri adalah: pertama, pengawasan lingkungan; kedua, korelasi berbagai bagian terpisah yang merespons lingkungan; ketiga, transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi lainnya.[6] Sedangkan pihak-pihak yang bertanggung jawab melaksanakan fungsinya dalam masyarakat misalnya, pimimpin politik atau diplomat.  
1.5  Analisis
Setelah mengatahui gagasan pesimistik memandang keterlibatan dunia maju terhadap dunia berkembang karena adanya kepentingan dominasi demi kepentingan negaranya sendiri. Sekarang menilik apa sajakah yang mereka dominasi. Mengacu pada pemikiran Galtung, imprealisme ini ada beberapa aspek yaitu ekonomi, politik, militer, budaya, dan komunikasi.
Pertama pada bidang ekonomi, pusat menguasai sarana produksi, sedangkan pinggiran menyediakan bahan mentah. Negara pinggiran ini juga merupakan sasaran pasar pusat. Bentuk imprealisme yang terjadi jika kita lihat, pusat mengambil dan mengekploitasi barang-barang mentah kemudian dijadikan barang jadi dan dijual kembali ke negara penyokong bahan mentah dengan haraga yang relatif lebih mahal. Dengan kata lain, negara pinggiran menjadi konsumsi barangnya sendiri namun sudah di buat jadi oleh pusat. Seperti Indonesia yang mengekspor hasil buminya khususnya karet untuk pembuatan ban kendaraan ke negara-negara seperti Jepang dan China. Lalu produk-produk kendaraan yang di Indonesia kebanyakan dari Jepang, kendaraan itu sendiri membutuhkan pembuatan ban.
Memahami realita yang ada terlepas dari sokongan barang mentah ke negara-negara maju. Keberadaaan Bank Dunia (World Bank) dari struktur keanggotaan 184 negara. Sejumlah 150 negara berkembang di antaranya hanya memiliki kekuatan suara 33 persen. Sementara itu 34 negara maju di dalamnya memiliki kekuatan suara sebesar 67 persen suara. Tentu  hal ini menunjukkan dominasi struktur kepemilikan saham Bank Dunia, maka tidaklah mengherankan kebijakan yang lahir dari Bank Dunia, tidak lebih koorporasi raksasa yang melahirkan kebijakan ”memfasilitasi” kepentingan pemegang saham terbesar. Mulai dari struktur kebijakan hingga penunjukan perusahaan rekanan Bank Dunia yang memiliki afiliasi terhadap negara maju.[7]
Kedua, pada bidang politik Galtung menyebutkan bahwa imprealisme politik terjadi ketika pusat menguasai akses yudikatif dengan berbagai macam peraturan atau model-model instruksi yang mengharuskan pinggiran mematuhi peraturan dan berposisi sebagai pengikut. Ketika pinggiran bertindak peniru, otomatis mereka pada posisi ‘pihak yang diperintah’. Posisi ini tidak memiliki wewenang yang luas. Kita mengenal istilah politik demokrasi yang digembar-gemborkan Barat, ini merupakan proses penguasaan dari segi pandangan. Meski pemikiran ini mempunyai dampak baik pula, namun bukan berarti negara berkembang dapat didekte oleh mereka. Keterlibatan AS, Inggris dan Prancis yang mendukung oposisi di Libya dapat dikatakan bentuk pengauasaan politik.  
Ketiga, bidang militer pusat memiliki teknologi keamanan dan pertahanan yang lebih kuat. Sebaliknya, pingiran memiliki posisi yang lemah dengan adanya peralatan yang relatif tradisional. Kondisi ini bisa menjadi sasaran bagi pusat yang sewaktu-waktu dapat ‘membungkam’ pinggiran dengan invasi dan serangan frontal.
Selain itu penulis melihat pada bidang militer yang baru-baru ini terjadi adalah bantuan Amerika Serikat, Prancis dan Inggris di Libya. Koalisi ini melancarkan serangan militer melalui udara dengan dalih untuk memberlakukan zona larangan terbang di Libya dan melindungi rakyat sipil dari tidak kekerasan yang dilakukan rezim Moammar Ghadafi. Menurut penulis ada agenda lain yang direncanakan oleh pemerintah negara koalisi tersebut. Bukan saja untuk melindungi rakyat Libya, melainkan menegaskan bahwa dirinya negara Barat adalah penguasa di belahan dunia. Hal ini terdapat keterkaitan serangan negara-negara Barat dengan tujuan imprealisme.
Keempat, dibidang komunikasi imprealisme bergerak pada penguasaan sarana transportasi dan komunikasi. Pada bab lain penulis telah memelajari mengenai penguasaan kantor berita global. Pada sarana komunikasi arus berita internasional sudah didominasi oleh negara-negara pusat. Seperti Reuters (Inggris), Associated Press (AP/Amerika Serikat), United Press International (UPI/ Amerika Serikat), Agence France Press (AFP/ Perancis) dan TASS (Uni Soviet). Kantor-kantor berita ini memiliki peran dalam arus berita internasional. AP, UPI, AFP dan Reuters menjadi sumber paling dominan di negara-negara Amerika Utara, Eropa Barat, Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Sedangkan TASS menjadi sumber berita utama di Eropa Timur dan belahan dunia lainnya.
Kelima, dalam bidang budaya dapat kita lihat sesuatu yang masuk dari pusat ke negara berkembang dapat berdampak pada budaya. Jika kita lihat produksi-produksi hiburan baik itu film, musik, komik yang didistribusikan ke nagara-negara pinggiran. Dengan tidak sadar melewati hal-hal tersebutlah budaya asal pembuatan produksi itu terbawa. Selain itu dapat dilihat program putri Indonesia yang mencari wanita dengan kriteria putih, tinggi, langsing, mampu berbahasa asing, hidung mancung dan lain sebagainya merupakan dampak dari budaya Barat yang tersalur lewat medianya. Rasanya akan sangat aneh apabila keluar dari kriteria di atas. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Negara dunia ketiga tanpa sadar meniru budaya Barat melalui media massa yang mengandung budaya-budaya mereka. Pada saat itulah budaya-budaya lokal mulai termarjinalkan dari gerusan budaya asing yang kian marak dan dianggap sebagai gaya hidup. Sehingga dunia ketiga tidak dapat mudah lepas dari kekuatan Barat. Ini merupakan efek yang terjadi akibat imprealisme tersebut, keterlenaan dalam buaian semu negara Barat menjadikan ketidaksadaran yang ujungnya akan mengekor pada pemikiran mereka, seraya berfikiran bahwa tolak ukur modernitas adalah dari bentuk pencapaian negara Barat.



[1] Armando, Komunikasi Internasional (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007)h.3.39s
[6] Mulyana, Dedy, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007)h. 147
[7] http://www.selamatkan-indonesia.net/diakses tanggal 5 juni 2011/pukul 20.00

[1] Shoelhi, Muhammad, Komunikasi Internasional dalam Perspektif Jurnalistik,(Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2009)h.162
[2] Abraham, M.Francis, Modernisasi di Dunia Ketiga Suatu teori Umum Pembangunan, h.4.
[3] Rudolph and Rudolph, The Modernity of Tradition dikutip dalam buku Abraham, M.Francis, Modernisasi di Dunia Ketiga Suatu teori Umum Pembangunan, h.4.
[4] Armando, Komunikasi Internasional (Universitas Terbuka, Jakarta: 2007),h.3.39

Tidak ada komentar:

Posting Komentar