Pemahaman dalam konteks antar budaya itu tidaklah mudah. Disini diperlukan pemahaman yang mendalam. Dari unsur-unsur yang mendasari terjadinya Komunikasi Antar Budaya adalah konsep-konsep budaya dan komunikasi. Sebagaimana dikatakan oleh Sarbaugh dalam (Ilya: Komunikasi Antar Budaya :18).
Pengertian komunikasi antar budaya memerlukan suatu pemahaman tentang konsep-konsep Komunikasi dan Budaya serta saling ketergantungan diantara keduanya. Dan memang antara komunikasi dan budaya itu tidak dapat dipisahkan. Dalam hal ini pengembangan budaya manusia hanya mungkin dilakukan dengan komunikasi dan melalui komunikasi ini budaya dapat ditransmisikan dari satu generasi ke generasi lainya. Seperti yang dikatakan Hall (Gudikunt &Yun Kim, 2002) bahwa budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya. Maka kita mengkomunikasikan apa yang kita kerjakan dalam budaya yang memang sudah kita pelajari mulai dari bahasa, aturan, norma dari mulai kita kecil dan tanpa kita sadari budaya tersebut mempengaruhi perilaku kita khususnya dalam berkomunikasi dengan orang lain.
1. Proses Komunikasi Persuasi
a. Temuan Data
Mengkampanyekan mengenai global warming perwakilan dari Asia Moslem Charity Foundation kepada warga masyarakat desa Poncol, Cirendeu.
b. Analisis Data
Dalam melakukan komunikasi persuasi yang paling penting adalah bagaimana pesan yang kita sampaikan dapat diterima dan diikuti. Dalam menjelaskan masalah ini saya berusaha melakukan persuasi menyinggung aspek rasional dan emosional. Secara rasional maka mampu menguasai komponen kognitif komunikan. Sedangkan persuasi yang dilakukan secara emosional dapat menyentuh aspek afeksi, yaitu hal yang berkaitan dengan kehidupan emosional seseorang. Melalui cara emosional, aspek simpati dan empati seseorang dapat digugah.
Menjelaskan mengenai global warming secara lebih rasional di hadapan masyarakat dengan melihat kondisi mereka pada tingkat rata-rata edukasi, tidak menggunakan istilah-istilah asing, ringan dan sederhana meskipun ilmiah (data sosial). Dengan hal tersebut akan menyentuh aspek kognitif mereka. Yang menjadi tujuan materi disampaikan adalah tersimpan di long term memory mereka.
Menjelaskan masalah pemanasan global harus menyentuh mereka secara emosional, menyadarkan bahwa mereka adalah bagian dan dapat mendapatkan efek pula mengenai masalah ini, sehingga aspek simpati mereka terhadap masalah ini tergugah dan melaksanakan apa yang sudah diajarkan untuk mencegahnya (data psikologis). Selain itu menggunakan teknik integrasi, dimana kita menyatu dengan mereka dan menjadi bagian dari mereka (data kultur).
c. Faktor Pendukung dan Penghambat
Pada saat memperkenalkan bahaya global warming penulis mengaggap ada faktor yang mendukung kelancaran persuasi ini, di mana komunikan tidak tahu sama sekali tentang pemanasan global sehingga dapat di pengaruhi dengan konsep yang kita berikan. Namun faktor penghambatnya adalah masalah kebiasaan buruk (buang sampah di sekitar pemukiman) yang perlu ditinggalkan, namun susah bagi mereka karena sudah menjadi kebiasaan. Sehingga mereka lebih banyak mengeluh.
2. Komunikasi pada Komunitas Berbeda Aliran
a) Temuan Data
Komunikasi yang terjalin antara NU (penulis) dengan teman dari organisasi masyarakat Muhammadiyah, Tarbiyah, dan Hisbut Tahrir.
b) Analisis Data
Pada saat masa transisi dari SMA ke PT, saya merasakan perbedaan yang sangat signifikan. Semasa enam tahun di Pesantren saya bergaul dan tumbuh di komunitas NU yang sangat kental, semua kegiatan dijalankan bersama atas dasar worldview yang sama sehingga tidak ada kontak yang bertolak belakang. Ketika saya pindah melanjutkan ke PT, saya tinggal di sebuah yayasan. Di tempat ini saya menemukan teman-teman yang mayoritas berkerudung besar, berbeda dengan saya yang berkerudung standar. Notabene mereka organisasinya Hisbut Tahrir, Partai Keadilan Sejahtera, Muhammadiyah, dan Tarbiyah.
Sebelumnya saya memandang mereka dengan Islam ekstrim, mengingat komunitas saya dahulu adalah NU. Namun stereotip itu kemudian luntur seiring saya bergaul dengan mereka. Sebagian dari mereka justru menghormati, meskipun tetap memang terdapat beberapa yang fanatik. Salah satu contoh ketika saya sedang bersantai di kamar, secara reflek saya membaca salawat sambil bernyanyi (salawat yang dilafadzkan dengan nada tertentu ). Kemudian teman di kamar saya langsung berkomentar “kamu orang NU ya? Saya paling benci dengan orang NU. Ziarah lah, salawatan lah. Tahlilan lah, Itu tidak boleh. ” Sontak saya terkejut, dan berusaha membela diri dengan mencoba memberikan argumen, namun kemudian ia justru pergi meninggalkan kamar.
Sedangkan yang berbeda aliran namun tetap menghormati satu sama lain menurutnya setelah penulis wawancara langsung alasannya adalah, “perbedaan aliran dan pandangan itu sah-sah saja, namun yang paling penting bagi umat Islam menjaga ukhwah islamiyah. Bukan karena perbedaan pandangan justru memecahkan kita. Dan yang paling penting juga kita umat Islam yang sama-sama percaya keberadaan Allah, dan utusanNya. Tidak perlu ada sinis-sinisan”
Jika dilihat interaksi antara saya dan kedua orang ini, adalah pandangan yang fanatik terhadap alirannya di mana ia memandang pandanganorang lain sebagai suatu kesalahan. Sedangankan di sisi lain ia memandang suatu perbedaan dan mencari kesamaan dalam perbedaan aliran. Yaitu kesamaan kepercayaan akan Allah dan Rasul.
c) Faktor Pendukung dan Penghambat
Rasa persamaan meskipun dalam perbedaan (faktor pendukung). Fanatisme yang terlalu ektrim terhadap pandangan yang lain (faktor penghambat).
3. Potensial Hambatan KAB
Dalam berkomunikasi menyangkut dua belah pihak yaitu komunikator dan komunikan. Masing-masing mempunyai potensi hambatan. Potensi hambatan itu sendiri antara lain:
1. Keanekaragaman dari Tujuan Komunikasi, Masalah komunikasi sering terjadi karena keberagaman tujuan, alasan, dan motivasi.
2. Etnosentrisme
Menurut The Random House Dictionary etnosentrisme adalah kepercayaan pada superioritas kelompok atau budayanya sendiri, etnosentrisme cenderung menganggap rendah orang-orang yang dianggap asing dan memandang atau mengukur budayanya dan membandingkan dengan budaya asing. Karena etnosentrisme biasanya dipelajari pada tingkat ketidaksadaran dan diwujudkan pada tingkat kesadaran, sehingga sulit untuk melacak asal usulnya. Bahayanya penilian itu sering kali salah, semena-mena dan tidak berdasar sama sekali.
3. Tidak Ada Kepercayaan
Karena sifatnya yang khusus komunikasi antar budaya merupakan peristiwa pertukaran informasi yang peka terhadap kemungkinan terdapatnya ketidakpercayaan antara pihak-pihak yang terlibat. Orang umumnya segan untuk mengambil resiko berhubungan dengan orang asing.
4. Penarikan Diri
Komunikasi tidak akan terjadi apabila salah satunya menarik diri karena sifatnya yang khusus komunikasi antarbudaya merupakan peristiwa pertukaran informasi yang peka terhadap kemungkinan terdapatnya ketidakpercayaan antara pihak-pihak yang terlibat. Orang umumnya segan untuk mengambil resiko berhubungan dengan orang asing.
5. Tidak Ada Empati
Beberapa hal yang menghambat empati antara lain:
Fokus terhadap diri sendiri secara terus menerus, adalah sulit untuk memusatkan perhatian pada orang lain kalau kita berpikir tentang diri kita secara terus menerus dan bagaimana orang menyukai kita;
Ø Pandangan-pandangan stereotip mengenai ras dan kebudayaan;
Ø Kurangnya pengetahuan terhadap kelompok, kelas atau orang tertentu;
Ø Tingkah laku yang menjauhkan orang untuk mengungkapakan informasi;
Ø Tindakan atau ucapan yang seoalah-olah menilai orang lain;
Ø Sikap tidak tertarik;
Ø Kekuasaan, kekuasaan digunakan untuk mengontrol atau menentukan tindakan orang lain.
a) Temuan dan Analisis Data:
Dalam hal ini penulis akan menilik peristiwa mengenai teman sekamar yang baru saja lulus sekolah menengah. Singkatnya, ia berasal dari Magelang dan kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta. Saat pertama kali ia masuk kuliah ia merasa asing karena berbaur dengan orang baru (Betawi) rata-rata orang berlogat Betawi dan cablak. Dalam hal belajar secara kolektif ia lebih memilih pada teman-teman yang berasal dari Jawa dan tidak cabak menurutnya (etnosentrisme). Karena ia tidak mau mengambil resiko baik mengenai pandangan, takut dikatakan tidak gaul karena tidak kejakartaan.
Hal ini karena pandangan stereotip mengenai ras dan kebudayaan yang belum ia ketahui. Dan informasi yang ia ketahui hanya orang-orang yang berbicara terang-terangan (baca: Cablak). Sekat ini menimbulkan sikap tidak tertarik dan segan karena bukan berasal dari satu ras atau kebudayaan yang sama dan akhirnya berefek pada penarikan diri dari komunitas tersebut.
b) Faktor Penghambat
Ø Ketidaktahuan mengenai informasi kelompok;
Ø Stereotip yang belum tentu kebenarannya;
Ø Perasaan segan dan cemas.
4. Kontak Antar Agama
a) Temuan Data
Berinteraksi dengan guru baru berasal dari Amerika beragama kristen.
b) Analisis Data
Saat pertama kali melakukan komunikasi dengan orang asing, muncul kecemasan dalam diri bahwa ia bukan kelompok kita dan kita harus berhati-hati. Kita akan melakukan prediksi-prediksi perilaku terhadap mereka. Dalam tataran komunikasi antarbudaya seperti yang dinyatakan oleh Miller dan Steinberg kita menggunkan data kultural orang asing tersebut dan digunakan untuk memprediksi atau memperkirakan perilakunya.
Ada dua faktor yang mempengaruhi keakuratan prediksi kita ketika menggunakan data kultural yaitu (1) Banyaknya pengalaman pada level kultural yang kita punya. Yaitu tergantung pengalaman kita tentang budaya mereka.(2) Kesalahan yang dibuat karena kita tidak menyadari pengalaman budaya dari stranger tersebut atau karena kita memprediksi dengan pengalaman dasar budaya yang berbeda dari seseorang yang kita gunakan. Disamping itu data prediksi sociological hal ini berdasarkan pada anggota anggota dari stranger atau aspirasi-aspirasi dalam kelompok sosial tersebut.
Prediksi ini berdasarkan pada orang-orang yang spesifik yang berkomunikasi dengan kita. Ketika menggunakan data ini kita concern pada bagaimana orang-orang ini berbeda dan sama dari anggota lain dari budaya dan kelompok yang mereka miliki.Menurut Stephan dan Stephan dalam Gudikunst kita merasa takut pada konsekuensi negatif ketika berinteraksi dengan strangers yaitu (1) Kita merasa takut konsekuensi negatif untuk konsep self kita. Kita juga takut kehilangan self esteem yang akan mengancam identitas sosial kita dan kita merasa bersalah kalau kita berkelakuan yang menyakiti strangers.(2) Kita merasa takut konsekuensi perilaku negatif kita. Kita merasa mereka akan mengeksploitasi kita, mengambil keuntungan, mencoba mendominasi kita, dan juga khawatir terjadinya konflik verbal.(3) Kita takut mengevaluasi negatif para strangers.(4) Kita takut dievaluasi negatif oleh anggota ingroup kita
Kecemasan-kecemasan yang pertama bahwa pandangan saya mengenainya dengan datang ke Pesantren untuk mengajar secara sukarela awalnya membuat saya merasa waspada dalam konteks saya dan lingkungan saya adalah Islam, dan dia western yang memiliki pandangan “lain” mengenai agama Islam. Kali pertama komunikasi saya alami ketika berkomunkasi dengan orang baru khususnya guru baru di sekolah saya yang berasal dari Amerika Serikat bernama Lee Becker. Kecemasan yang terjadi adalah masalah bahasa. Yang kedua adalah stereotip dari pihak Barat mengenai Islam, saya jadi merasa terbebani dengan stereotip itu dan bagaimana caranya menciptakan kesan yang baik di hadapannya. Kecemasan itu terbentuk menjadi kata-kata selalu mengatakan “sorry” pada saat berbicara. Sampai saya sadar ketika Mr.lee Becker menegur saya kenapa saya selalu bilang “sorry”.
c) Faktor Penghambat
Pertemuan dengan orang asing membawa kejutan (ketidakpastian) dan tekanan (kecemasan). Beberapa kejutan dapat mengguncang konsep diri kita dan identitas budaya kita dan membawa kecemasan karena alasan pandangan mereka terhadap Islam Bahwa Islam teroris atau stereotip yang terbangun sebelumnya.
5. Dialog Agama
Pluralitas agama di era globalisasi yang menjadi karakteristik dari bangsa Indonesia yang heterogen. Sehingga tak bisa dipungkiri, pluralitas agama ini memiliki potensi dan peran sangat besar bagi kemajuan bangsa. Islam mengajarkan dalam al-Qur’ân surat al-Hujurât: 10 : “Sesungguhnya orang-orang beriman itu tidak lain adalah bersaudara. Maka, damaikanlah antara dua saudaramu, dan bertakwalah pada Allah supaya kamu dirahmati”.
Sebenarnya perspektif dimensi agama, ajaran agama mengandung klaim kebenaran yang bersifat universal. Hal ini memungkinkan terjadi ambiguitas dalam interpretasi menurut tingkat pemahaman, penghayatan, dan moralitasspiritualitas penganutnya. Fenomena ini tampak dalam penggunaan konsepkonsep atau simbol-simbol agama untuk orientasi tertentu ketika melibatkan emosi keagamaan penganutnya.
Untuk itu, menghindari konflik atau mewujudkan kerukunan umat beragama merupakan nilai universal. Dengan nilai ini, semua manusia melalui agamanya diharapkan dapat hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, saling toleransi, dan bekerjasama dalam menangani persoalan kemanusiaan. Di antara usaha untuk penghindari konflik atau mewujudkan kerukunan umat beragama itu, tentunya ada upaya untuk saling mengenal di antara agama-agama melalui dialog antar umat beragama.
a) Temuan Data
Penulis mengikuti sekolah antar agama dan bincang-bincang lintas agama yang diselenggarakan oleh ICRP.
b) Analisis Data
Sekolah ini (ICRP) mengadakan pertemuan rutin dwi mingguan stakeholder ICRP yang mayoritas adalah kalangan muda lintas agama. Forum diskusi ini diarahkan untuk menciptakan kader-kader peduli pluralisme dan memiliki pengetahuan dan sensitivitas terhadap perbedaan-perbedaan yang ada dalam agama-agama untuk kemudianmengelolanya menjadi kekayaan yang berorientasi pada integrasi bangsa dan bangunan pluralisme yang kokoh.
6. Strategi untuk Peningkatan KAB
Interaksi antar budaya yang berhasil adalah didasarkan pada komunikasi yang efektif. Berikut ini merupakan teknik dan kiat yang dapat membantu mengembangkan sikap saat berkomunikasi antar budaya.
1. Mengenal Diri Sendiri
2. Menggunakan kode yang sama
3. Menunda penilaian, jangan terburu-buru menilai orang lain
4. Memperhitungkan lingkungan fisik manusia
5. Meningkatkan ketrampilan berkomunikasi
6. Mengembangkan empati
7. Mencari kebersamaan diantara kebudayaan.
a) Temuan dan Analisis Data
Penulis berkomunikasi dengan teman yang berasal dari Somalia dan tinggal di asrama yang sama. Karena sebelumnya sudah pernah berkomunikasi dengan orang asing, saya merasa dapat beradaptasi lebih baik tanpa kecemasan yang berlebihan (mengenal diri sendiri melalui pengalaman). Awal pertemuan dengan mahasiswi asal Somalia ini saya tanggapi dengan santai, meskipun awalnya saya merasa sedikit aneh karena ia dan teman-temannya berkulit hitam pekat. Namun untuk penilaian sikap, saya mengikuti dari pola komunikasi yang terjadi di antara kami. Dalam berkomunikasi kami menggunakan bahasa Inggris, di mana bahasa ini sudah menjadi bahasa internasional dan menjadi kode yang sama.
Jika mengobrol santai, terkadang kami menemukan hal yang sama dalam hal bahasa penyebutan seperti termos. Di Indonesia menyebutkan tempat air panas adalah termos, di Somalia juga menyebutnya dengan termos. Terdapat beberapa bahasa nonverbal yang yang berbeda, yaitu salah satunya cara bersalaman antara Indonesia dan Somalia. Orang somalia cara bersalaman pertemuan antara telapak tangan sampai berbunyi atau hampir sama seperi “tos” namun tidak sekuat tos.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar